Sunday, June 28, 2009

Nikmatilah

O BCM ku yang sunyi

sambutlah aku
bawalah aku kedalam duniamu
dunia yang penuh imaji akan kenikmatan
dunia yang penuh darah akan penyesalan

dan kita akan bercinta, bernyanyi, dan berdansa
di malam ini, dan malam-malam selanjutnya
dalam beberapa bulatnya cahaya bulan berikutnya
di bawah cahaya itu, cahaya keemasan
cahaya purnama lambang kesunyian dan kegelisahan

kulepaskan semua yang ada padaku, juga padamu
menampakan parasmu yang sesungguhnya
dan aku menyentuhmu, merengkuh jiwamu
membawa kita kepada kenikmatan tiada tara

kulit kita bertemu dan menyatu
kurasakan kegetiranmu ketika persekutuan ini terjadi
dan sesaat kita telah bersama-sama tenggelam dalam mimpi
tenggelam dalam kenikmatan abadi

apabila aku tidak kuasa membendung harsatmu
dapat membawaku kepada penyesalan abadi
sebab terkadang engkau dan kemauanmu yang tak terbatas itu
hingga melampaui batas energiku, kekuatanku,
serta daya tahanku yang terbatas ini
walaupun itu jikalau aku terpeleset atau sedikit lengah

kurasakan ketika kita telah sama-sama berada di atas
kulihat ekspresimu, semakin menuntutku untuk terus membuatmu
menikmati indahnya persekutuan diantara kita berdua

dan aku terpaksa terus memacu habis energiku
walau tuntutanmu pun semakin menjadi-jadi
seakan membuatku hampir merasakan nikmatnya,
alam di bawah sadar yang kian terus membiusku

kupacu semakin deras seluruh ragaku, jiwaku
semakin keras dan tak mungkin kendur
seakan semua diriku adalah hakmu
milikmu untuk kesenanganmu semata

lalu sekali lagi... kupacu habis energiku
dan terus kuhentakan, semakin kencang, semakin dalam
kuhempas sekali lagi dan terus kupacu, hilang alam sadarku
dan...
oooooouuuuuuuuhhhhhhhh..........!!!!!!!!!

kau pun melolong keras, begitu juga padaku
menderita di dalam tekanan kenikmatan tiada tara
seluruh jiwa raga melayang, terbang lepas
jauh meninggalkan alam sadar ini

rasakan sensasi ini
dalam kenikmatan yang tak mungkin tertandingi
klimaks yang sempurna, tak pernah ada sebelumnya
jiwa dan raga tertidur seketika
sesaat setelah menempuh akhir dari perjalanan
yang panjang, menegangkan, dan sangat enak itu

sambutlah aku kembali untuk kali berikutnya o BCM-ku
dan aku harus semakin kuat, memiliki energi lebih
jika kita bertemu kembali kali berikutnya

karena bagai melawan seorang musuh
yang mendapatkan energi dari luar batas kewajaran
dirimu akan semakin sulit untuk ditaklukan

walau kesatria di dalam sini
disinari oleh senjata maha kuat nan sakti
bahkan belum tahu apakah mampu kugunakan untuk mengalahkanmu
jika belum atau takut untuk kucoba

menangis dan tertawalah...

Wednesday, June 24, 2009

Untukmu O Sang Pengejar Mahkota

terakhir kali engkaulah sang kesatria jawara
langit nan riang, rumput nan wangi, demikianlah saksi
di pelanet bundar tiada berdosa ini...

menangislah kini engkau o sang kesatria tiada bertaji
kebohongan diri, kepalsuan musuh, merekalah keladi
pelanet ini memang bundar tiada berdosa...

o daratan Pisa sang pengejar mahkota...

Monday, June 22, 2009

CERPEN

Ia duduk terdiam. Tangannya terjulur kebawah, keningnya menyentuh pinggiran meja rias sebagai tumpuan dari badannya untuk bersandar. Dengan tertunduk lesu, ia menutupi hampir seluruh wajahnya dengan rambutnya, hanya menyisakan bibirnya yang tipis.

Dari kelopak matanya, tetes air mata pun keluar setelah ia tidak sanggup lagi untuk menahannya, membasahi pipinya yang kemerah-merahan. Lalu tanpa sadar, tangan kanannya telah membuka laci meja riasnya, meraih sebuah pisau silet, dan menyayatkannya ke tangannya sendiri. Darah mengucur perlahan menodai tangannya yang putih. Dadanya bisa saja bernasib sama, tentu jika ia sudah terlewat gila.

Gadis itu kini sedang menjalani perkuliahan di sebuah Universitas ternama yang jauh dari rumah orang tuanya, sehingga ia terpaksa harus tinggal di rumah kost dekat kampusnya di sana. Ia merasa tidak nyaman hidup tanpa ayahnya. Ibunya, telah lama meninggal ketika ia baru berumur 7 tahun karena sakit.

Sejak kematian ibunya, ia sangat bergantung kepada ayahnya. Begitupun ayahnya sangat perhatian terhadap putri satu-satunya tersebut. Hampir setiap malam ia menelpon ayahnya dari rumah kostnya untuk menghindari perasaan rindu.

Lebih dari satu tahun yang lalu, ia menjalin hubungan asmara dengan seorang laki-laki yang juga merupakan mahasiswa dari kampus dimana ia menjalani perkuliahannya tersebut. Seorang laki-laki berwajah putih dengan tatapan mata yang datar, dingin, namun terkesan ramah dan berwibawa. Laki-laki itu juga yang membantunya untuk memecahkan masalah pribadinya, terutama keluarganya.

Sesuatu yang membuat si gadis jatuh hati pada laki-laki itu adalah sikapnya yang tidak banyak bicara. Tetapi dari sorot matanya, terlihas jelas laki-laki itu memiliki rasa kasih sayang yang teramat besar kepada setiap orang yang dicintainya.

Suatu hari si gadis bertanya kepada laki-laki itu apakah laki-laki itu masih bersama kedua orang tuanya atau tidak. Selama menjalin hubungan asmara, mereka memang tidak pernah saling mengunjungi rumah orang tua mereka satu sama lain karena mereka berdua kini tinggal di rumah kos yang berbeda yang dekat dengan kampusnya tersebut dan juga jauh dari tempat tinggal orang tua mereka masing-masing. Saat selesai kegiatan perkuliahan pun si laki-laki belum bisa menyempatkan diri untuk pergi berkunjung ke rumah orang tua si gadis dengan alasan sibuk bekerja.

Apalagi sikap si laki-laki tersebut yang agak tertutup mengenai orang tuanya. Seakan ada sesuatu yang mengganjal di hatinya untuk menceritakan tentang orang tuanya kepada orang lain.

"Memangnya apa yang terjadi dengan mereka?" tanya si gadis.

Laki-laki itu diam sejenak. Seakan pertanyaan itu kembali mengingatkannya terhadap memori masa lalunya yang kelam. Namun si gadis merasa paham betul apa yang dirasakan laki-laki itu. Karena sejak kecil jelas ia dihidupi dengan single parent. Lalu sontak saja ia berkata bahwa ia dapat merasakan apa yang dirasakan laki-laki itu. Ia pun juga demikian. Ketika umurnya masih dua kali umur Indonesia diduduki Jepang, ibunya meninggal dunia karena sakit keras. Lalu ia dibesarkan oleh ayahnya seorang diri.

Ia mengatakan bahwa ayahnya itulah yang membuatnya tegar dalam menghadapi segala cobaan. Menurutnya, ayahnya adalah ayah sekaligus suami yang paling sempurna. Ia tidak pernah melihat hal buruk dilakukan ayahnya, baik terhadapnya, almarhum ibunya, maupun terhadap orang lain di dekatnya. Ayahnyalah yang menjadikan ia seorang bijaksana. Ia sangat mencintai ayahnya.

Senyum tipis terlihat dari bibir si laki-laki. Baginya, apa yang dirasa si gadis terhadap perasaannya, tidaklah sama dengan perasaannya sendiri. Bahkan lebih pahit.

Lalu seketika laki-laki itu berkata pelan, "Hingga umurku 6 tahun, aku dibesarkan layaknya seorang tahanan, penuh tekanan dan penderitaan. Hal itu dilakukan oleh seorang laki-laki yang nyatanya adalah ayah kandungku sendiri yang tidak bisa menerima kenyataan bahwa ia memiliki seorang anak dari hasil hubungannya dengan adik kandungnya sendiri.

Karena tidak kuat harus terus menerima kenyataan hina dan menyedihkan ini, ibuku bunuh diri saat aku masih berumur 6 tahun. Lalu aku dibesarkan oleh kerabat ibuku, aku memanggilnya paman. Ayahku hidup entah dimana bersama seorang istrinya yang telah ia nikahi 4 tahun sebelum peristiwa ibuku terjadi tanpa memperdulikanku. Saat itu mereka telah dikaruniai seorang anak."

Hati si gadis mencelos, ia merasa sangat bersalah telah menanyakan sesuatu yang sangat merupakan privasi bagi laki-laki itu. Ia bingung harus berkata apa. Hanya diam saja pun juga tidak pantas baginya dalam mengatasi situasi sulit seperti itu. Ia jadi merasa serba salah. Yang terlintas di kepalanya hanyalah kata 'maaf'. Lalu ia berkata bahwa ia sangat meminta maaf dengan apa yang baru saja didengarnya tadi, bahwa tidak seharusnya ia mendengar itu, bahwa laki-laki itu telah menceritakan terlalu banyak mengenai latar belakang keluarganya.

Angin segar memberikan sedikit kelegaan pada si gadis. Ia mengira-ngira apa yang sedang dipikirkan si laki-laki terhadap permintaan maafnya tersebut. Namun ia yakin si laki-laki tetap berhati lapang. Karena ia tahu bahwa laki-laki itu sangat mencintainya.

Lalu laki-laki itu berkata bahwa sebelumnya ia tidak pernah menceritakan hal tersebut kepada siapapun. Ia hanya mengidentitasi diri sebagai anak yatim piatu. Tanpa argumen apapun. Jadi jelas hanya si gadis itu lah orang pertama yang bisa membuka mulutnya, yang bisa menjadi tempat untuk mencurahkan segala pikiran dan perasaannya, dan yang menjadi orang terdekatnya saat ini.

Si gadis menatap mata laki-laki itu. Ia melihat jelas segala penderitaan yang dialami laki-laki itu. Bahwa tidaklah sama pengalamannya dengan laki-laki itu, melainkan jauh lebih menyakitkan jika dibandingkan dengan pengalamannya sendiri.

Si gadis menatap mata laki-laki itu lekat-lekat. Kini ia merasa sebagai orang yang telah bisa sedikit membuka hati laki-laki itu. Ia lah orang yang, bagi si laki-laki itu, dapat membagi perasaannya. Baik suka maupun duka. Ia lah sinar pencerahan bagi hati laki-laki itu yang telah lama membeku.

Si gadis terus menatap mata laki-laki itu. Lalu ia menciumnya.

"Aku sangat mencintai ibuku. Apapun yang terjadi aku bersumpah akan membalas penderitaan ibuku terhadap laki-laki terkutuk itu." Demikian kata-kata terakhir laki-laki itu ketika mereka mengakhiri perjumpaan mereka sore itu.

Saat tengah libur semester, si gadis mengajak laki-laki itu untuk ikut pergi mengunjungi rumah orang tuanya bersamanya. Laki-laki itu pun menerima tawarannya. Mungkin untuk dua atau tiga hari dia akan bermalam di rumah orang tua si gadis sebelum kembali ke rumah pamannya, pikirnya.

Pagi harinya mereka berangkat. Setibanya mereka di rumah orang tua si gadis, sang ayah sedang tidak ada di rumah seperti yang telah diketahui si gadis kemarin saat ia menelpon ayahnya bahwa ayahnya sedang pergi ke luar kota.

Mereka pun telah membersihkan badan, bersalin pakaian, serta makan malam pada hari itu. Malam harinya, mereka menghabiskan waktu dengan bercengkrama di taman pekarangan rumah orang tua si gadis, di bawah sinar purnama ke-enam.

Tak habis-habisnya si gadis mengungkapkan perasaannya pada laki-laki itu tentang betapa rindunya ia dengan ayahnya yang telah sekian bulan tidak berjumpa. Si gadis pun telah menyiapkan berbagai kejutan yang ditujukan untuk ayahnya baik benda maupun cerita.

Berjam-jam telah mereka lalui tanpa memperdulikan perasaan lelah karena seharian perjalanan dari kampus mereka ke rumah orang tua si gadis. Saat malam tengah sangat larut, mereka pun tidur.

Pagi harinya, si gadis terbangun. Tidak sedikitpun tanda-tanda keberadaan kekasihnya tersebut di rumahnya. Bahkan pembantu serta penjaga rumah ayahnya tersebut tidak melihat kemana perginya laki-laki itu. Berkali-kali si gadis mencoba menelponnya tetapi tidak tersambung. Sepertinya ponsel si laki-laki itu sedang tidak diaktifkan.

"Apakah ini lucu!" bentak si gadis kesal. Apa maksudnya meninggalkannya tanpa informasi apapun, pikirnya. Gadis itu pun bertanya-tanya dalam hati. Kemana perginya laki-laki itu. Mengapa kekasihnya itu pergi diam-diam tanpa memberitahunya. Apakah terjadi sesuatu padanya sehingga ia tidak sempat memberitahu si gadis apa alasan kepergiannya.

Dibalik perasaan marahnya tersebut, si gadis sedikit khawatir terhadap laki-laki itu. "Apakah ini pertanda buruk?" pikirnya. Namun ia tetap tidak tahu dimana dan apa yang terjadi dengan kekasihnya saat ini.

Selang tiga bulan kemudian laki-laki itu pun tidak kunjung memberi kabar. Si gadis sengaja tidak berusaha untuk mencoba menelponnya lagi untuk memberi kesan bahwa ia sangat marah dengan apa yang telah dilakukan laki-laki itu. Pergi tanpa bilang-bilang merupakan sikap yang kurang sopan. Apalagi disaat si gadis membutuhkannya karena ia merasa kesepian dengan tidak ada yang menemaninya di rumah. Ia sengaja menunggu agar kekasihnya itu menelponnya, atau memberikan kabarnya melalui cara lain.

Si ayah telah pulang ke rumahnya dua bulan yang lalu. Saat si ayah menanyakannya tentang kekasihnya itu, si gadis diam saja. Pura-pura tidak tahu apa yang terjadi padanya. Namun hati si gadis pun luluh terhadap bujukan ayahnya untuk menceritakan tentang kekasihnya itu. Akhirnya si gadis pun menceritakan apa yang sebenarnya terjadi.

Hingga ketika satu minggu sebelum kegiatan perkuliahan dimulai lagi, pagi harinya laki-laki itu menelpon si gadis. Ia mengatakan bahwa ada tugas penting dari pamannya yang mengharuskannya untuk segera pulang ke rumahnya. Ia berdalih bahwa keesokan harinya telepon genggamnya dicuri orang saat ia tengah berada di pelabuhan, maka dari itu ia tidak sempat memberi tahu si gadis alasan kepergiannya ketika itu. Sekarang pun ia menelpon si gadis lewat telepon umum. Ia tidak memberi alasan mengapa ia baru sempat menelpon si gadis tiga bulan setelahnya.

Keesokan paginya si gadis berangkat ke rumah kostnya kembali. Kali ini ia diantar oleh ayahnya memakai mobil. Minggu-minggu ini ayahnya tidak terlalu sibuk untuk bekerja sehingga dapat menemani anaknya sebelum perpisahannya kembali dalam beberapa bulan mendatang.

"Belum ada keterangan bahwa ia akan kembali," begitulah jawaban ibu kost dari rumah kost dimana laki-laki itu tinggal saat si gadis menanyakan tentang keberadaannya. Ia semakin bingung akan ketiadaan kekasihnya tersebut. Benaknya dipenuhi berbagai pertanyaan seputar keberadaan dan apa yang dilakukan kekasihnya tersebut saat ini.

Si gadis menjalani sisa liburnya di rumah kostnya dengan seorang diri. Ia memang tidak terlalu suka menghabiskan waktunya bersama mahasiswi-mahasiswi lainnya yang juga tinggal di rumah kos yang ia tempati saat itu. Juga pada teman-teman seperkuliahannya.

Besok adalah hari dimana si gadis akan memulai kegiatan perkuliahannya kembali. Pagi hari itu tidak begitu cerah. Agak sedikit gerimis. Di bagian selatan, awan hitam memenuhi pandangan dan menghalangi birunya langit. Pertanda bahwa hari itu akan didatangi hujan lebat.

Si gadis tengah berada di kamar kostnya sembari mendengarkan lagu-lagu di iPod-nya untuk menghindari sepi. Tiba-tiba, seseorang mengetuk pintu kamar kostnya dari luar. Dia adalah ibu kost dari rumah kostnya tersebut. Matanya merah dan mengisakkan air mata.

Si gadis terheran-heran mengenai apa yang sedang terjadi. Sebelum ia sempat menenyakan perihal apa yang terjadi kepada ibu kostnya tersebut, dengan tatapan penuh rasa iba, sontak si ibu kost berkata, "seseorang telah menunggumu di luar, tabahkan hatimu nak."

Ia tidak tahu apa maksud perkataannya. Jelas ini merupakan pertanda buruk baginya. Ia bertanya-tanya dalam hati. Apakah gerangan yang terjadi padanya. Ia mengikuti si ibu kost dari belakang menuju ruang tamu. Seorang pria tinggi besar yang dikenalnya sebagai sopir pribadi ayahnya tengah berdiri saat kedatangannya ke ruang tamu.

Seraya membuka topi pet-nya tanda penghormatan terhadap seorang majikan, pria itu berbisik kepadanya, "seseorang telah masuk melewati jendela kamar ayahmu tadi malam. Dia menghunuskan beberapa tusuk belati ke dada ayahmu hingga membuatnya kehabisan darah. Namun pria itu kini telah berada di kantor polisi dengan menyerahkan diri. Aku turut berduka, putri kecil."

Hati si gadis mencelos. Ia sangat tidak percaya akan apa yang baru saja didengarnya. Seakan vertigo melingkari kepalanya, ia jatuh di pelukan pria besar itu. Dadanya penuh sesak seakan tak kuasa menahan kenyataan yang terjadi terhadap ayahnya, terhadap dirinya, serta terhadap perasaannya.

Kini ia merasa seorang diri, benar-benar sendiri. Ia merasa serba salah. Mengapa kekasihnya itu tidak ada di sisinya saat ia tengah merasa jatuh. Rasa sedih bercampur marah memenuhi perasaannya. Wajahnya dipenuhi air mata, membasahi jaket kulit si pria besar itu.

Bahkan ia tidak tahu selanjutnya. Bagaimana ia bisa menjalani hidup seorang diri. Bagaimana ia bisa melewati masa-masa sulit tanpa kehadiran ayahnya. Rasa ketergantungan kepada ayahnya tidak dapat ia lepaskan begitu saja. Namun, ia harus menerima kenyataan, bahwa ayahnya telah tiada, bahwa laki-laki yang menjadi bagian dari hidupnya, yang menjadi pelampiasan keluh kesalnya, yang menjadi sesuatu yang membuat hidupnya penuh arti, kini telah tiada.

Hidup memang sulit untuk ditebak. Apa yang menjadi senjata baginya, kini menjadi bumerang bagi dirinya sendiri. Membuatnya terpuruk dengan kehilangannya. Membuatnya hancur atas kepergiannya.

Tiga hari telah berlalu sejak kepergian ayahnya. Namun wajahnya masih sangat pucat pasi, penuh kehilangan dan kesedihan yang mendalam. Sejenak ia teringat akan kata-kata kekasihnya tersebut bahwa kekasihnya tersebut akan membalas perbuatan seseorang yang telah membuat ibunya menderita.

Seketika pikirannya pun dipenuhi perasaan dendam terhadap pria yang tega membunuh ayahnya tersebut. Lalu ia minta diantarkan sopir pribadi almarhum ayahnya tersebut untuk pergi ke tempat dimana pria yang tega membunuh ayahnya tersebut ditahan.

Sesampainya di sana, mereka berdua lantas diantar petugas menuju sel dimana pria itu ditahan. Mereka berjalan melewati labirin-labirin penjara yang dingin, melalui beberapa gerbang sel, lalu sampai di sebuah sel yang hanya berisikan sesosok tubuh.

Seketika mata gadis itu terbelalak. Seakan semua ini hanya mimpi. Si gadis tidak menyangka apa yang sedang dilihat oleh kedua bola matanya saat itu. Di dalam sel itu, berdirilah seorang pria berambut hitam lurus, dengan wajah putih dan mata datar. Kekasihnya tengah berdiri di hadapannya. Hanya pagar jeruji besi yang berdiri memisahkan keduanya.

"Sekarang kamu tahu, apa yang membuatku pergi meninggalkanmu seorang diri di rumah orang tuamu ketika itu. Ya, aku tidak menyangka, di rumah itu, aku telah melihat foto orang yang tengah aku cari selama bertahun-tahun ini. Akulah yang membunuh ayahmu, adikku."

***