Ada kala semua terasa baik-baik saja. Senyummu tertarik lebar ketika seluruh orang di sekeliling begitu asyik mengajak bercanda, membicarakan topik ringan nan seru, juga mengerjakan hobi yang sama tanpa takut berpikir hal itu tidak akan menjadi apa-apa kelak.
Ingatanmu begitu detail tentang bagaimana ayah dan ibu marah ketika kamu lalai terhadap tugas-tugas sebagai seorang anak. Namun alih-alih merasa terhukum, kamu menganggap itu lah cara mereka menyatakan kasih sayang dan peduli.
Bagimu sekolah bukan merupakan penjara seperti yang sebagian anak lain rasakan. Ruang itu justru menjadi tempat menguji nilai-nilai yang kamu bawa sejak lahir, membandingkannya dengan perbedaan yang dimiliki beberapa anak lain, sehingga kamu bisa mendapat validasi sebuah norma.
Kamu juga merasa lebih unggul dibanding anak-anak lain dalam beberapa bidang. Itulah yang menjadi sumber energimu untuk terus membuktikan diri di mana pun.
Kamu begitu berarti…
Namun kamu tidak pernah menyangka hal kecil sungguh sangat sensitif bagimu kini. Terlalu banyak yang kau pikirkan hingga tak tersisa sedikit pun tempat di kepala untuk sesuatu yang sebenarnya wajar terjadi.
Dunia yang begitu mendukungmu sejak kecil kini berbalik arah. Kamu selalu bertanya, kapan ini akan berakhir? Atau, kapan akhirnya kamu akan menyerah pada keadaan?
Di hadapanmu, semua berjalan sendiri-sendiri, yang kalah hanya akan jadi pecundang. Berapa pun yang kamu berikan kepada orang lain, tidak pernah menjadi jaminan akan dapat membantumu menghadapi situasi sulit.
Di dunia ini kamu dipaksa menyadari, bahwa idealisme kian semu. Segala hal hanya laku jika dibayar dengan materi. Lalu berapa lagi yang tersisa darimu yang bisa kau jual?
Sumber energimu hilang, tetapi jiwamu terus diserap untuk mengisi kekosongan yang lain. Kering-kerontang hingga tak ada tetes tersisa...
Ketika segala sesuatu menjadi begitu berat, kamu selalu teringat tentang memori masa lalu. Kamu terbiasa dengan berbagai jenis kompetisi, tetapi tidak pernah diajari cara menghadapi kegagalan yang terjadi terus-menerus, bahkan harus kau hadapi seorang diri.
Mungkin itulah alasan mengapa selera musikmu terhenti di karya-karya yang kamu nikmati belasan tahun lalu. Kamu rindu bocah riang dalam dirimu yang sudah lama pergi.
Namun, tentu saja kegagalan demi kegagalan tidak sampai membuatmu berpikir bahwa kamu tidak lebih cakap dari beberapa orang yang menggeluti bidangmu, atau berada pada posisi atau status yang sama denganmu. Namun hal itu justru makin menegaskan pertanyaan, mengapa seolah kamu selalu tidak pernah cukup untuk orang-orang di sekelilingmu?
Apakah tragedi demi tragedi membuatmu menjadi tidak peduli? Tidak juga. Kamu masih memiliki empati. Namun timbang rasa itu justru kau habiskan untuk mengasihani mereka yang gagal membuatmu ceria kembali.
Akhirnya, kamu pun sadar, bahwa dunia tak lagi memandangmu…