Monday, January 24, 2011

Ngalor-ngidul

*Di suatu malam

Haloo kawan.. Selamat malam.. :)

loh, sebentar?? Bukankah ini siang ya???

Wah saya baru sadar!! Ternyata ini hari sudah siang.. hihihi
Entah apa bedanya malam dengan siang. Kamu tahu, eh? Adakah pembedanya? Ehm, apa mungkin hal itu dilihat dari intensitas cahayanya? Atau, tiupan anginnya barangkali? Ah, atau mungkinkah ini hanya tipuan perasaan kita saja?

Entahlah, namun saya rasa setiap orang pasti pernah merasa sepi, gelap, dan dan tak tahu arah di kala siang; juga merasa ceria, cemerlang, dan penuh dengan imajinasi di kala malam. Itu wajar, hehe. Lalu ada di kondisi yang manakah dirimu sekarang?

Baiklah, jika kamu bertanya balik pada saya, sedang berada di manakah saya saat ini, maka saya akan sedikit bercerita. Saat ini, di depan saya, adalah sebuah lampu jalanan. Karena ketiadaan cahaya matahari sang penaung di malam yang penuh gerulan angin ini, nampak begitu mencoloknya lampu itu. Namun sayang, ia akan menjadi perhatian hanya ketika tidak menyala sebagaimana mestinya. Yahh, begitulah terkadang, sikap dari sosok-sosok yang menyibukan diri mondar-mandir di bawah lekat cahaya itu. Tidak perduli dengan energi yang tanpa mereka sadari telah banyak membantu mereka meneruskan langkahnya. Tidak perduli betapa banyak sosok lain yang membantunya untuk terus bertahan hidup.

Di bawah lampu itu, agak ke kiri sedikit, nah, saya melihat sesosok tubuh. Ah, hanya anak kecil. Namun apa yang sedang dilakukannya sendirian? Dia duduk dengan melipat kaki, kedua pahanya yang sekecil betisnya menempel pada dada, dan kedua tangan melingkari kedua kaki mungilnya tersebut. Mungkin malam ini begitu dingin sehingga dia memeluk kedua kakinya tersebut untuk menghangatkan diri. Ah, atau kah dia memang sedang merindukan pelukan seseorang yang dapat menghangatkan dan melindunginya dari kejamnya tanah di sekelilingnya itu? Ya, mungkin saja..

Bocah itu duduk sendirian. Bajunya coklat ke-abuan. Saya yakin warna aslinya adalah putih. Dia membawa segulung bungkusan kain, yang juga kumal. Entahlah apa isinya. Saat saya pandangi bocah itu dari sebrang jalan, pandangan matanya tak henti-henti mengikuti setiap kendaraan yang melesat cepat di depannya. Mulutnya sesekali berucap sesuatu. Entah kepada siapa. Kepada tuhan mungkin? Ah, tapi saya ragu akan kondisi seperti itu dia telah banyak belajar dalam memikirkan tentang sang maha pencipta. Barangkali dia berbicara pada dirinya sendiri, atau bahkan teman imajinernya. Ah, dia sinting. Tapi, Hey tunggu.. Oh, Ternyata dari tadi dia sedang menangis!

No comments:

Post a Comment