Di sebuah perempatan jalan, aku berdiri bebas. Aku terbang laksana seekor burung gereja yang meluncur ke sana ke mari tanpa mengenal batas. Tubuhku ringan, seakan tidak ada lagi berat badan yang menopangku untuk berjalan, sehingga bebas bergerak ke mana pun yang kuinginkan. Anehnya, tanpa rasa.
Yang aku lihat hanyalah terang, yang berarti siang, dan gelap, yang berarti malam. Kiranya itu yang kutangkap dari perkataan orang-orang di sekelilingku, mengenai keseimbangan, yin dan yang. Namun aku terheran-heran dengan pemandangan di hadapanku.
Apa aku? Siapa orang-orang itu?
Tatapanku terus tertuju pada orang-orang di depanku. Mereka terlihat begitu bergairah, menghamburkan semua rasa yang mereka punya untuk melampiaskannya pada sesuatu. Di sebelah kananku, ada sebagian dari mereka yang tertawa kegirangan, membopong berbagai peralatan elektronik sambil berlari tanpa memperdulikan peluh yang terus mengucur di tubuh mereka.
Asap pekat memenuhi tempat ini. Kuikuti balutan kabut hitam itu menuju tempatnya berasal melalui penglihatanku. Tepat di belakang tempatku berdiri, dari lubang kaca jendela yang pecah dan telah menghitam, terlihat kobaran api yang menjalar di dalam sebuah ruangan, membakar apa saja yang ada di sana. Beberapa detik kemudian, gelak tawa seorang pemuda berkulit sawo matang mengiringi percikan api yang sedang menggeliat menghabisi sebuah sedan hitam dalam ruangan itu yang bagian belakangnya telah menjadi abu.
Abu. Sesuatu yang butirannya begitu halus, tak membentuk apapun yang terlihat di sekelilingku, juga tak sesombong akan apa yang pernah ia bentuk sebelumnya, baik manusia, hewan, barang elektronik, maupun kendaraan yang kini telah melalui proses perubahan kimiawi menjadi dirinya. Mereka semua, hanyalah abu, sangat rapuh dan hitam pekat.
Abu. Seperti ini kah diriku?
***
Segerombolan pemuda berlari dari salah satu tikungan di perempatan jalan itu. Mereka membawa sebilah golok, bambu runcing, atau sebatang balok kayu di tangan mereka sambil berlari mengerumuni sebuah mobil buatan eropa.
PRAAANG!!!
Salah seorang dari mereka memecahkan kaca mobil bagian samping sebelum menarik paksa pengemudinya ke luar. Seorang perempuan cantik berkulit putih dan bermata sipit terhempas ke jalan.
“Aku bukan Cina! Aku lahir di Indonesia! Aku orang Indonesia!” teriak perempuan itu marah.
“Mata lo sipit! Lo orang Cina! Jangan ngaku-ngaku sebagai orang Indonesia!”
“Lantas kenapa kalau mataku sipit! Toh aku tetap peduli dengan negara ini!”
“Halahh berisik!!!”
Tak sempat perempuan itu mengangkat tubuhnya, puluhan tangan telah berada di sekujur tubuhnya, mengoyak pakaiannya, dan memeganginya hingga tak bisa bergerak.
“Mampus lo, Cina! Makan nih..” teriak seorang laki-laki berwajah garang yang duduk di atas perut perempuan tersebut.
“Aaaaahhhh, jangann.. Jangaaaaann!”
“Hahahahahaha…!”
A Lin? Itukah A Lin?
Aku hanya memandangi kekasihku tanpa ada belas kasih, tanpa ada niat apapun untuk menolongnya, walau ia mengerang. Aku hanya diam memperhatikan kejadian itu, berusaha menguak makna yang ada daripadanya, namun gagal.
Kenapa aku? Apa aku memang sudah tidak lagi memiliki perasaan?
***
Ingatanku tertuju pada raut wajah ibuku. Suatu sore, kala situasi sedang tak tenang, aku mengutarakan keinginanku pada ibu untuk menikahi gadis pujaanku.
“Tidak! Sampai kapan pun ibu tak akan merestui hubungan kalian berdua.”
“Tapi bu..”
“Ibu tidak ingin punya menantu yang bukan orang Islam! Apa kata almarhum ayahmu jika beliau masih ada, bahwa dia memiliki anak yang ingin ke luar dari Islam? Lebih baik kamu pergi saja dari rumah ini kalau kamu tetap ingin melaksanakan keinginanmu itu!”
Kepalaku pening. Aku memilih untuk beranjak menuju pintu sebelum aku mengatakan kata-kata yang nantinya akan membuatku menyesal.
“Dengar! Kamu tidak akan mendapat kebahagiaan darinya.”
Langkahku terhenti sesaat setelah mendengar kata-kata yang terlontar dari mulut ibuku itu. Lalu aku melanjutkan langkah menuju pintu untuk ke luar dari tempat itu, mungkin tak akan pernah kembali lagi.
***
Di sebuah kedai kami duduk berdua. Hanya aku dan A Lin. Kami memesan dua cangkir kopi, dan berbincang-bincang.
“Ini kopinya, tanpa gula. Silahkan diminum.” kata seorang pelayan perempuan ketika meletakan dua cangkir kopi di atas meja kami sambil mengilaskan senyum.
Aku membalasnya dengan senyuman. Lalu menyeruput kopi itu sambil melihat wajah lugu A Lin yang sedang meniup kopi panas dalam cangkirnya. Kopi ini terasa manis.
“Ka..” serunya sambil mengelap tetesan kopi yang tertinggal di bibirnya yang tipis. “Aku akan ikut ayah ke Hongkong.” lanjutnya.
“Hongkong?” tanyaku terperanjat.
“Situasi di sini sedang tidak normal. Ayah menghawatirkan keselamatku.” ujarnya sambil memilin-milin kancing bajunya yang terkena tetesan kopi tanpa melihat ke arahku.
“A Lin, tapi tadi kamu sudah setuju akan masuk Islam dan menikah denganku. Mengapa sekarang kamu malah ingin pergi meninggalkanku, A Lin?”
“Arka, mengertilah. Aku etnis Cina. Mungkin tahun 1998 ini sedang tidak baik untuk kami para etnis Cina di sini. Mereka menyebutku sebagai orang Cina yang tinggal di Jakarta. Entah apa yang mereka inginkan dari kami. Namun yang pasti, jika keadaan sudah mereda, aku akan kembali ke sini, untuk melangsungkan pernikahan kita.”
“A Lin, kamu aman di sini. Kita akan membuat sebuah keluarga di lain tempat di negara ini. Mungkin di Jogja, atau Surabaya, A Lin. Pokoknya di sini, di Indonesia. Tidak dengan kamu pergi ke luar negri seperti itu, A Lin.” kataku penuh harap dan mencoba meyakinkannya.
Tak ada kata-kata lagi yang terdengar saat itu. A Lin menangis. Aku mau tidak mau merelakanya untuk terbang ke Fujian bersama ayahnya. Entah ia akan menemukan laki-laki lain di sana, entah menjadi pelacur, aku tidak peduli. Kemungkinan-kemungkinan itu hanya akan membuatku semakin sedih. Bahkan hancur tanpa ia di sampingku.
***
A Lin. Di perempatan, aku melihat wajahnya yang lelah lesu di antara orang-orang biadab itu. Hanya dengan mengerang sedikit saja ia akan dipukul orang-orang itu. Aku merasakan sesuatu yang berbeda dalam diriku, sedikit aneh. Sisi lain pintu mobil A Lin tempat di mana ia ditarik paksa tadi ternyata juga telah terbuka menganga. Beberapa langkah dari pintu itu, telah tertelungkup seorang laki-laki setengah sadar. Kepalanya berdarah, mungkin karena benturan benda tumpul. Kemejanya telah compang-canping, dan berwarna merah karena sebuah tusukan belati di punggungnya.
“A Lin..” dari mulutnya kulihat ia bergumam lirih. “A Lin, kamu di mana?”
Laki-laki itu berusaha menengadahkan kepalanya untuk melihat ke arah tempat kekasihnya dieksekusi. Sinar merah kian terpancar dari matanya ketika ia melihat segerombolan laki-laki mengelilingi A Lin. Kemudian ia bangkit.
“Biadab!!!” serunya.
“Bah, masih hidup kau rupanya! Hey..” panggil salah seorang dari gerombolan tersebut ke arah rekan-rekannya. “Ayo beresin yang satu ini. Pemuja Cina najis ini masih hidup, cueh!!!”
Laki-laki itu menyeruak ke gerombolan orang-orang itu berusaha untuk memukuli mereka semua. Namun yang terjadi malah benturan balok dan tusukan bambu runcing yang mengenai kepala dan perutnya.
Itu.. Dia.. Arh..!
Aku merasakan sebuah tekanan yang deras masuk ke dalam tubuhku. Menggoyahkan seluruh jiwa ragaku. Aku yakin laki-laki itu adalah diriku. Aku mulai ingat apa yang pernah terjadi padaku kala itu. Sebuah kejadian yang membuatku berdiri di sini.
Aku ingat rasanya. Aku merasakannya. Aku, merasa.
Saat aku mencoba bergerak, aku merasakan sesuatu mengganjal tubuhku yang tidak lagi ringan. Ugh.. ternyata tubuhku kini telah dipenuhi darah. Sebuah rasa telah memenuhi tubuhku. Inilah sakit, inilah sedih, dan inilah hilang.
Sekejap tubuhku hilang, terlepas meninggalkan kenangan-kenangan tadi. Aku tidak tahu apa-apa. Yang aku rasa hanyalah silau. Seberkas cahaya yang menyilaukan menghampiriku. Cahaya dunia. Membuatku harus beradaptasi dengannya untuk merasakan samsara. Menghadapi itu, aku hanya bisa berteriak, “hooaaahh, hooaaahh, hooaaaa….!!!”
Tempat di sekelilingku berwarna putih, serba putih. Seorang perempuan memakai pakaian serba putih menyentuhku, lalu mengangkatku dengan sebuah senyuman hangat seraya berkata, “nyonya Chang, bayinya laki-laki!”
***
Dims, lo gila ya? Hahaha
ReplyDeleteorang gilaaa orang gillaaa
ReplyDelete