Suatu ketika aku mengantar anak laki-lakiku ke dokter untuk injeksi vaksin DPT di Rumah Sakit langganan kami. Ada sebuah vending machine yang terletak persis di tengah deretan sofa ruang tunggu.
Mesin itu menjual beberapa jenis softdrink dan snack, lengkap dengan label harga, layar monitor petunjuk penggunaan, serta kode bar qris yang memudahkan para pembeli, tanpa pramusaji. Aku membayangkan dunia ketika semua hal sudah serba cepat dan terautomatisasi, di mana hardskill konvensional tak lagi laku dijual.
Setelah beberapa saat memilih, aku menekan tombol untuk membeli produk susu uht rasa coklat untuk diriku sendiri. Dalam hitungan detik, layar monitor langsung menampilkan kode bar qris yang dapat kugunakan untuk membayar lewat mobile banking.
“Bruk!”
Terdengar suara pelan dari bagian bawah vending machine tempat pengambilan produk. Susu kotak siap diminum.
“Bruk… Bruk!”
Tiba-tiba kembali terdengar 2 kali suara benda jatuh di lubang tempat pengambilan susu tadi. Penasaran, kujulurkan tanganku ke rak tersebut.
Benar saja, ada 2 kotak susu bermerk sama seperti yang sedang kuminum. Buru-buru aku cek saldo rekening dari smartphone, khawatir kelebihan membayar. Namun tidak ada nominal aneh yang kutemukan. Saldo terpotong persis seharga satu kotak susu.
“Hmm… Mesin ini error,” gumamku dalam hati.
Tebersit keinginan untuk mengambil 2 susu kotak yang masih tergeletak di rak bawah vending machine tersebut. Namun beberapa saat kemudian, kuurungkan niat itu.
“Tidak. Itu bukan hakku,” batinku.
Aku berjalan dengan perasaan riang sambil menyeruput satu kotak susu instan. Jutaan zat serotonin seolah baru saja memenuhi otakku setelah merasa menjadi “orang baik”.
Aneh. Padahal aku tidak memberikan apa-apa. Tidak ada sedekah yang aku keluarkan siang itu. Tidak juga aku membagikan susu kepada pelayan rumah sakit yang bekerja di hari Minggu. Namun aku tetap merasa menjadi “orang baik”. Kenapa ya?
Sambil berjalan, kubiarkan perasaan riang itu memenuhi pikiranku. Kunikmati label "Santo" yang kusematkan untuk diri sendiri, sambil berusaha melupakan buah plum milik teman yang tertinggal di kulkas rumah, yang kumakan habis begitu saja tanpa meminta izin pemiliknya terlebih dahulu.
…
No comments:
Post a Comment