Monday, November 16, 2009

HOAX kah???

Mari kita lihat-lihat sebentar..

Gan pernah denger gosip tentang "healthy soup", sejenis sup yang katanya dipakai di Taiwan untuk meningkatkan stamina kaum pria dalam berhubungan sex yang berasal dari janin manusia?? Cerita itu mengisahkan tentang menu di restoran-restoran Taiwan yang berupa janin manusia dan dihargai $50 sampai $70.
















Jadi awalnya gosip itu menyebar lewat e-mail gan, lalu lama-lama semakin menyebar dan banyak masyarakat yang percaya. Setelah ane search di mbah google, ternyata gosip itu dibantah kebenarannya. Itu adalah foto seniman cina bernama Zhu Yu yang sengaja melakukan performance seperti itu karena pemerintah Cina yang kurang memperhatikan performing art. Namun foto-foto tersebut malah beredar di internet dan diklaim sebagai menu makanan di restoran-restoran Taiwan.

nih cek sumbernya:

http://www.breakthechain.org/exclusives/eatbabies.html
http://hoaxhariini.blogspot.com/2008/05/menu-fetus-bayi-hasil-aborsi-di.html

Namun ternyata ada pesan dan foto yang berbeda versi dengan yang tadi disebutkan di atas. Kali ini pesan itu berbunyi bahwa seorang wartawan di Taiwan menulis laporan penyelidikannya mengenai gosip tersebut. Konon disebutkan ia menemui seorang pengusaha Taiwan yang merupakan pengkonsumsi tetap healthy soup. Kemudian ia diajak ke sebuah restoran yang menyajikan menu tak wajar tersebut dan diperkenalkan dengan juru masaknya. Ketika juru masak restoran tersebut mengajak mereka ke dapur untuk melihat cara pembuatan healthy soup, mereka menemukan sesosok janin tak bernyawa di atas papan potong. Si juru masak berkata bahwa janin tersebut berusia 5 bulan. Menurut beberapa sumber semua janin yang dikonsumsi adalah janin perempuan.

Berikut hasil rekaman gambar dari penelusuran tersebut:


-Direndam Vodka ini janin

































-Dipotong tali pusernya




























-Campuran bumbu-bumbu lain


































-Siap saji

































Nih sumbernya:
http://www.kikil.org/forum/Thread-healthy-soup-sup-janin-bayi-yang-terkenal-di-china-taiwan
http://kissmeguntur.wordpress.com/2009/08/04/healthy-soup-soup-janin-manusia/

Kenapa itu janin kok ga dipotong-potong sekalian ya, tapi malah justru disajiin dalam bentuk utuh seperti itu? Hmm kalo menurut ane, gosip yang kedua itu juga berbau HOAX gan alias berita bohong. Yah mungkin aja janin dalam foto itu sengaja dibuat dalam keadaan utuh biar dikira asli. Namun yang pasti, kalo berita tersebut memang bener adanya, terkutuklah itu si produsen, konsumen, serta distributor janin tak bersalah itu gan.

Haha sekedar share aja sih. Masih ragu juga kalo itu berita NO HOAX. Ga menutup kemungkinan kan kalo janin itu cuma boneka atau sebagainya. Kalo punya info lagi tentang berita tadi boleh di share gan..

Tuesday, July 21, 2009

Dampak Aksi Teror Terhadap Anak

Gambar disamping tentu tidak asing dimata sebagian warga Indonesia, karena gambar ini merupakan sebuah rekaman gambar peristiwa bom yang terjadi di Hotel Ritz Carlton, Jakarta, Jumat (17/7/2009) pagi, beberapa saat setelah terjadi ledakan di hotel JW Marriott dimana jarak antara keduanya hanya beberapa ratus meter. Pelaku aksi teror tersebut jelas seorang yang profesional, seperti Noordin M Top, jaringan Al Qaeda, atau bisa juga jaringan-jaringan teroris baru yang niat dan tujuan dari aksi teror mereka mengakibatkan negara Indonesia mendapat predikat "tidak aman" di mata dunia.
Namun apa jadinya jika aksi teror dilakukan oleh seorang bocah yang masih berumur 12 tahun? Bacalah liputan berita di bawah ini:

http://bandung.detik.com/read/2009/07/21/211659/1169023/486/polisi-mengira-pelakunya-profesional
Selasa, 21/07/2009 21:16 WIB

Hotel Sheraton Bandung Diteror Bom
Polisi Mengira Pelakunya Profesional
Andri Haryanto - detikBandung


Bandung - Penangkapan PDF (12), pelaku teror bom di Hotel Sheraton, Jalan H Djuanda, Bandung, mengejutkan anggota kepolisian sendiri. Awalnya polisi mengira pelaku adalah profesional.

"Kita pikir pelakunya profesional," kata Kapolwiltabes Bandung Kombes Pol Imam Budi Supeno kepada wartawan di Aula Mapolwiltabes Bandung, Jalan Merdeka, Selasa (21/7/2009).

Sebelumnya, Kapolwiltabes mengatakan jika pelaku menelepon dengan nada layaknya orang mabuk. "Tapi itulah adanya," ujar Kapolwil.

Imam menambahkan, pelaku diciduk setelah menyelidiki nomor telepon seluler yang digunakan. "Dia tidak mematikan telepon selulernya, bahkan sempat berbicara dengan anggota reskrim," kata Imam.

Di tempat sama, Kasatreskrim Polwiltabes Bandung AKBP Arman Achdiat mengatakan, dirinya pun tak mengira jika pelaku mengalami autis.

"Jam 6 sore saya telepon, dia menjawab jujur kalau dia sedang di warung Aa dekat Hotel Preanger, saya kira pelaku masih dalam keadaan mabuk," ujar Arman.

Hotel Sheraton Bandung menerima ancaman bom pada pukul 08.51 WIB. Ancaman diterima resepsionis hotel melalui telepon. Resepsionis hotel sempat menuturkan bahwa penelepon berbicara seperti orang mabuk. Polisi yang mendapat laporan mengenai ancaman ini langsung menyisir hotel, tetapi tidak ditemukan benda mencurigakan.

Thursday, July 16, 2009

BERGUNAKAH IMAJINASI?

Semua ini berawal dari hilangnya uang 250 ribu dalam amplop titipan pelanggan produk nyokap gw...

Setiba di rumah, tanpa pikir panjang gw langsung menuju kamar. Gw copot kemeja gw, tas, baju, celana panjang, dan sepatu. Lalu gw lempar dengan asal ke sudut kamar gw. Entah kenapa dari kecil gw memang nyaman melihat kondisi kamar gw yang bak pasar impres itu. Penuh barang tak beraturan dimana-mana. Walau terkadang membuat nyokap teriak-teriak.

Gw liat jam dinding, sudah setengah tujuh malam. Perjalanan dari Kalimalang ke Depok dengan sepeda motor pada waktu-waktu seperti itu memang benar-benar menyiksa badan. Maklum, jam pulang kerja. Sehingga mau lewat Keramat Jati, Halim, Condet, atau Pasar Minggu ga akan ada yang bisa hindari macet. Sedetik kemudian gw rebahkan tubuh gw ke tempat tidur. Dengan posisi tengkurap. Sedetik berikutnya semua rasa lelah, letih, dan lesu hilang seketika digantikan dengan perasaan mengantuk yang berlebihan.

Tiba-tiba dari sudut luar kamar, gw mendengar nyokap memanggil,"Dimaass... Gimana tadi barangnya?? Sudah kamu kasih ke pakde Parno toh??"

"Sudaaoooaahh.." jawab gw dibarengi dengan menguap.

"Terus uangnya??" Lanjutnya.

"uangnya??" berkata gw dalam hati.

Gw periksa seluruh kantung celana Jeans gw, kemeja gw, hingga ke dalam tas gw, tapi gw tak kunjung menemukan amplop berisi uang sebesar, kira-kira 250 ribu rupiah, titipan dari pelanggan produk nyokap yang tadi ia titipkan ke gw tersebut. Hanya korek gas, uang 100 ribu sisa gaji magang gw bulan ini, dan kunci motor aja barang-barang yang gw temukan. Gw periksa sekali lagi, dua kali, dan untuk ketiga kalinya sebelum akhirnya gw menyerah, hasilnya sama saja. Tidak ada amplop putih tebal berisikan uang yang dilipat.

Deeggg...!

Perasaan gw mulai panik, pikiran gw kacau, disertai badai mengantuk yang berlebihan hasil dari perjalanan yang gerah dan membosankan tersebut. Lalu gw teringat ketika gw mengeluarkan amplop berisi uang itu saat selesai acara seminar di kampus teman gw tadi. Ketika itu teman gw, Vicky, bermaksud ingin menukarkan uangnya ke gw. Lalu gw keluarkan amplop itu, dan gw suruh Vicky untuk mencari sendiri di dalam amplop itu, namun perhatiannya justru teralih ke teman gw satu lagi, Etmon, yang mengajak berbincang tentang cara membawa amplifier segede gaban dengan naik sepeda motor. Dan seingat gw, amplop itu belum gw masukan lagi ke dalam kantong sebelum kami meninggalkan tempat tersebut.

Dengan segera gw lari ke luar pintu rumah, nginjek sepatu cepat-cepat, dan langsung berlari menuju sepeda motor gw di garasi. Sasaran gw ialah ke rumah Etmon, yang tadi dia juga ikut pergi ke seminar di kampus Vicky bareng gw.

Sesampainya gw di rumah dia yang hanya berjarak beberapa ratus meter dari rumah gw, gw langsung temuin dia di kamarnya.

"Mon, ada masalah..." kata gw.

"Kenapa Dim?" tanyanya.

"Duit gw ilang, 250 ribu. Er..bukan duit gw sih, tapi apa jadinya kalo gw bilang ke nyokap kalo duit titipan buat dia ilang..."

"Er... tunggu-tunggu Dim." potongnya. "Mending lw ngomong yang bener. Duit yang mana? Ilangnya dimana? Terus apa ada hubungannya sama gw?" lanjutnya.

"Waktu selesai seminar tadi, lw inget ga gw ngejatuhin amplop pas kita lagi ngomongin tentang cara bawa ampli?" tanya gw.

"Maksud lw, kertas yang lw banting itu?"

"Nah itu dia.."

"Er...Jangan bilang, ketingga-..."

"IYAA, gw lupa masukin kantong lagi!"

Tanpa pikir panjang Etmon langsung ngambil helmnya, dan lari menuju pintu kamarnya sebelum akhirnya berhenti dan melihat ke arah gw. "Jangan kayak orang idiot gitu, ayo cepet!!"

"Lw mau ngapain??" tanya gw.

"Ya balik ke kampus Vicky lah!! Lw ga mau ambil itu duit?!"

"Lw yakin masih ada?"

"Ga ada salahnya dicoba bodoh..." balasnya.

Malam itu juga gw berdua kembali ke kampus dimana gw ngejatuhin duit titipan nyokap gw itu. Di jalan, gw berdua ngga ngobrol sambil cekikikan seperti biasanya. Mungkin karena rasa lelah yang membius gw berdua.

Akhirnya kami sampai di kampus yang terletak di bilangan Kalimalang tersebut. Sebelum kami masuk ke gerbang utamanya, gw berkata kepada Etmon,"Mon, kalo itu duit gw temuin, gw janji bakal traktir lw makan buat malem ini. Lagian lw mau-mauan aja balik lagi kesini. Maksud gw ke rumah lw tadi itu tuh gw mau nanya nomor hp cewenya Vicky. Si Vicky hpnya ga aktif, yah kali aja mereka tadi masih di kampus. Bisa gw minta tolong cariin amplop gw kan gituh.."

"Udahlah, jangan berlagak banyak duit deh luh... Ada banyak Dim, orang yang mengharapkan duit segitu.." balas dia.

"iy sih.." kata gw.

Setelah gw parkirin motor, kami langsung menuju lift untuk naik ke lantai 4. Kami melewati beberapa lorong menuju auditorium, tempat acara seminar tadi telah berlangsung. Setelah melewati beberapa pintu, kami melihat pintu besar yang merupakan satu-satunya jalan masuk ke aula itu. Aula itu sudah bersih dari sampah-sampah kertas dan box makanan bekas acara seminar tadi. Namun tidak seperti yang gw bayangkan sebelumnya, yang awalnya gw pikir aula itu sudah sepi dan tidak dipakai untuk kegiatan apapun lagi di dalamnya, aula yang terdiri dari tiga bagian lapangan bulu tangkis itu kini dipakai oleh beberapa mahasiswa untuk bermain bulu tangkis di dua garis-gari kotak yang membentuk lapangan bulu tangkis tersebut, dan parahnya lagi, di satu lapangan lainnya dipakai oleh wanita-wanita sexy nan aduhai untuk latihan dance.

"Oh tidaaak.. Apa yang bakal kita lakukan Mon? Lw lihat, tempat sampah satu-satunya di ruangan ini ada dipojok kanan itu. Mau kau taruh dimana muka kita di depan anak-anak dance itu..."

Tanpa satu katapun, Etmon langsung berjalan melewati gw menuju tong sampah tersebut. Gw juga akhirnya mengikuti dia dari belakang setelah mengucap beberapa kutukan dan umpatan kepada diri gw sendiri, yang bisa seceroboh itu membuang amplop berisi uang.

Sesampainya kami di pojok ruangan tempat bertenggernya sebuah tong sampah kumal yang dilapis dua bagian karena bagian bawahnya yang sudah pecah termakan usia itu, Etmon langsung mengarahkan tangannya ke sisi benda paling hina yang ada di ruangan itu sembari menatap mata gw dan dilanjutkan dengan anggukan singkat.

Dengan malas akhirnya gw juga mengikuti tindakan semi-nekatnya dengan gw memegang sisi tong tersebut dan Etmon di sisi sebrangnya. Sambil jalan dan melakukan tindakan yang sudah jelas menarik perhatian semua orang yang ada di ruangan itu, Etmon berkata pelan tanpa melihat ke arah gw,"Tetep Stay cool Dim.."

Gw tau, jika gw memegang tong sampah itu sambil cengar-cengir tolol, malah akan menambah gw berdua terlihat lebih tolol lagi. Jadi gw mau ga mau ngikutin apa kata temen gw satu itu tadi.
Sesampainya di luar aula, gw mencari-cari ruangan yang bisa gw gunakan buat menggeledah isi dari tong sampah yang ga sampe setengahnya tersebut.

"Disana Mon..." Seru gw sembari menunjuk ke salah satu gang sempit yang ujungnya buntu dan juga merupakan tempat dimana diletakan berbagai alat kebersihan seperti sapu, pengki, dan juga sebuah tong sampah besar yang menurut gw berfungsi sebagai induk tong sampah dari beberapa sub tong sampah yang lebih kecil darinya seperti yang sedang gw bawa saat itu.

"Lw periksa gih Dim.." Perintah Etmon kepada gw.

Setelah beberapa menit gw periksa dengan bantuan gagang sapu rusak yang gw ambil ngga jauh dari tempat gw berdiri, gw ngga kunjung menemukan barang yang gw cari.

"Haaah.. Tuh kan Apa gw bilang Mon. Kita tuh ga bakal seberuntung yang lw kira."

Mendengar perkataan gw, Etmon hanya terdiam membisu. Mirip kodok dungu yang kepalanya dipasak sampai tembus ke badannya sehingga menyebabkan tubuhnya tidak bisa bergerak.

"Yah se-engganya kita udah nyoba Dim."

Gw mengiyakan perkataan Etmon yang akhirnya memecah keheningan tadi dengan anggukan singkat. Nyesel juga sebenarnya, karena menurut gw amplop itu adalah sebuah tanggung jawab gw. Dengan menghilangkannya dan bilang ke nyokap bahwa uangnya hilang berarti gw tidak bertanggung jawab dalam melaksanakan tugas. Selain part time di outbound tempat abangnya temen gw, kegiatan gw saat libur kuliah untuk sekedar mengisi waktu dan mendapat uang jajan adalah juga dengan ngebantu nyokap menjalani usahanya dengan gw bekerja sebagai kurirnya. Lalu apa jadinya jika gw bilang ke nyokap bahwa uangnya hilang. Dimana sikap keprofesionalitasan dan tanggung jawab gw. Masih untung ini sama nyokap, apa jadinya jika gw bekerja dengan orang lain lalu gw melakukan keteledoran yang sama semacam ini lagi.

Yah gw emang selalu mengambil segi positif dari setiap kejadian. Mungkin ini peringatan untuk diri gw sendiri agar gw tidak bersikap semberono lagi. Seperti yang diajarkan di outbound tempat tempat gw part time, yaitu experience learning, gw harus belajar dari pengalaman gw sendiri dan juga orang lain dalam menyelesaikan setiap persoalan.

Setelah beberapa menit gw dan teman gw satu itu diam tanpa suara kembali, tiba-tiba kami melihat seorang petugas kebersihan gedung itu yang sedang berjalan beberapa meter di depan kami. Lalu dengan segera Etmon mendekatinya

"Maaf permisi pak. Kalau saya boleh tahu, yang membersihkan ruang auditorium setelah acara seminar tadi siapa ya? Anda atau orang-orang dari panitia tadi?" Tanya etmon.

"Oohh itu bukan saya, melainkan dari bagian serba-serbi." Jawab petugas itu. "Memangnya ada apa? Ada yang ketinggalan?" Tanyanya lanjut.

"Iya pak." Jawab gw. "Er... Kira-kira sampah dari acara itu dibuang kemana ya?" Tanya gw kepada petugas itu.

"Waah kalau itu sudah ga ada disini mas. Sudah dibuang ke pelbak." Jawabnya. "Tuh disebelah sana, di belakang gedung ini." katanya kembali sembari menunjuk ke arah Barat.

Gw mulai pasrah, mungkin perkataan temen gw bahwa salah satu belajar yang paling susah di dunia ini ialah belajar ikhlas adalah benar. Namun pernyataan itu sempat terbantah di pikiran gw sebelum gw hanyut dalam kepasrahan. Dengan ikhlas seperti itu berarti gw harus sabar. Padahal kata sabar adalah kata yang paling gw benci di dunia ini. Kenapa? Karena seperti kata orang bijak, sabar itu bukanlah sebuah sifat seperti yang pernah diajarkan nabi Muhamad S.A.W kepada umatnya, melainkan sebuah akibat. Akibat dari kita karena tidak berhasil mendapatkan sesuatu. Dalam benak gw mengatakan bahwa dengan begitu hidup kita akan selalu monoton dan sulit berkembang jika kita selalu sabar.

Akhirnya semangat gw menggelora lagi. Sejak dari rumah, pikiran gw memang berimajinasi tidak lain dari menemukan amplop berisi uang tersebut. Sehingga gw mengurungkan niat untuk tidak mencarinya di pelbak. Dengan segera gw mengajak Etmon menuju sana. Kami kembali menuju lift untuk turun ke bawah. Setelah sampai di bagian barat gedung itu, kami melihat dua buah tempat sampah besar berukuran sekitar 3x2x1 meter dari kejauhan. Dengan segera kami menuju sana.

"Ga ada salahnya Mon kita nyoba liat situasi disana. Kalo situasinya ngga memungkinkan buat kita cari, yah kita ga usah memaksakan." Kata gw kepada Etmon ketika kami sedang menuju ke tempat itu.

Tidak seperti yang gw duga sebelumnya, ternyata tempat sampah itu berisi sampah-sampah baru yang belum membusuk. Sebagian besar hanya berisi sampah kertas. Namun yang namanya tempat sampah tetap saja bau tidak enak.

"Ini giliran gw Mon. Lw udah cukup membantu gw sampai disini. Biar gw yang urus semua ini." Kata gw kepada Etmon sembari menatap tempat sampah itu dengan tatapan tajam bagaikan menatap musuh yang besar dan kuat namun yakin akan dapat ditaklukan layaknya kesatria-kesatria yang pernah gw baca di dalam kisah-kisah kesatria.

Bagai Achellis ketika menyerang keangkuhan TROY, bagai Harry Potter ketika berhadapan dengan musuh yang menginginkan dirinya, Lord Voldemort, dan bagai Eragon ketika harus melawan musuh yang awalnya adalah temannya, Murtagh, dengan sebatang bambu, gw aduk sampah itu, berusaha mengalahkannya hingga menemukan kemenangan dengan menemukan amplop gw tersebut.

Dengan keringat yang terus mengalir akibat beratnya bambu yang gw pegang dan juga bau dari sampah itu, gw terus mengaduk. Setelah semenit dua menit gw mengaduknya sambil sekali berhenti untuk mencari amplop gw tersebut, akhirnya gw menyerah ketika sudah memasuki menit ke-tiga. Gw ga tahan bau sampahnya. Dengan kesal, gw dorong bambu yang ujungnya masih tertanam di tumpukan sampah yang didominasi dengan kertas itu sehingga menyebabkan sampah yang berada dibawahnya mencuat keatas.

Sedetik kemudian, gw melihat lipatan kertas putih yang agak lembab dan sebagian sisinya basah terkena sampah cair ikut keluar berbarengan dengan sampah kecil lain yang mencuat akibat dari tebasan terakhir pedang berbilah dua gw tadi itu. Dengan seksama gw perhatikan benda itu, agak mirip dengan amplop gw tadi. Lalu gw ambil dengan ujung jari gw, dan gw buka lipatannya pelan-pelan. Benda itu ternyata amplop. Lalu ketika ge sobek bagian atasnya, gw melihat beberapa lembar uang mencuat dan menampakan dirinya ke gw.

"AHAHAHAAHHHH...!!!" seru gw. "KETEMU MOOONNN...!!!"

Dengan muka bodoh, kami langsung saling bertossan dan tertawa cekikikan seperti kebiasaan gw berdua atau berempat dengan para sahabat gw yang lain. Kami benar-benar ga menyangka jika amplop itu bisa ketemu kembali. Mungkin ini akibat dari pikiran gw yang sejak dari rumah selalu berimajinasi tentang "menemukan amplop tersebut", yang biasa orang sebut sebagai 'the power of mind' atau kekuatan pikiran. yah, dulu gw memang ga percaya dengan adanya 'the power of mind' tersebut. Karena menurut gw hal itu ga bisa dideskripsikan secara ilmiah. Namun seiring waktu dan kejadian-kejadian yang pernah gw alami, gw merasakan adanya kekuatan pikiran tersebut. Apalagi didukung dengan kejadian tadi.

Yah mungkin lain waktu gw mau ngebahas tentang 'the power of mind' itu tadi... hihi

Sunday, June 28, 2009

Nikmatilah

O BCM ku yang sunyi

sambutlah aku
bawalah aku kedalam duniamu
dunia yang penuh imaji akan kenikmatan
dunia yang penuh darah akan penyesalan

dan kita akan bercinta, bernyanyi, dan berdansa
di malam ini, dan malam-malam selanjutnya
dalam beberapa bulatnya cahaya bulan berikutnya
di bawah cahaya itu, cahaya keemasan
cahaya purnama lambang kesunyian dan kegelisahan

kulepaskan semua yang ada padaku, juga padamu
menampakan parasmu yang sesungguhnya
dan aku menyentuhmu, merengkuh jiwamu
membawa kita kepada kenikmatan tiada tara

kulit kita bertemu dan menyatu
kurasakan kegetiranmu ketika persekutuan ini terjadi
dan sesaat kita telah bersama-sama tenggelam dalam mimpi
tenggelam dalam kenikmatan abadi

apabila aku tidak kuasa membendung harsatmu
dapat membawaku kepada penyesalan abadi
sebab terkadang engkau dan kemauanmu yang tak terbatas itu
hingga melampaui batas energiku, kekuatanku,
serta daya tahanku yang terbatas ini
walaupun itu jikalau aku terpeleset atau sedikit lengah

kurasakan ketika kita telah sama-sama berada di atas
kulihat ekspresimu, semakin menuntutku untuk terus membuatmu
menikmati indahnya persekutuan diantara kita berdua

dan aku terpaksa terus memacu habis energiku
walau tuntutanmu pun semakin menjadi-jadi
seakan membuatku hampir merasakan nikmatnya,
alam di bawah sadar yang kian terus membiusku

kupacu semakin deras seluruh ragaku, jiwaku
semakin keras dan tak mungkin kendur
seakan semua diriku adalah hakmu
milikmu untuk kesenanganmu semata

lalu sekali lagi... kupacu habis energiku
dan terus kuhentakan, semakin kencang, semakin dalam
kuhempas sekali lagi dan terus kupacu, hilang alam sadarku
dan...
oooooouuuuuuuuhhhhhhhh..........!!!!!!!!!

kau pun melolong keras, begitu juga padaku
menderita di dalam tekanan kenikmatan tiada tara
seluruh jiwa raga melayang, terbang lepas
jauh meninggalkan alam sadar ini

rasakan sensasi ini
dalam kenikmatan yang tak mungkin tertandingi
klimaks yang sempurna, tak pernah ada sebelumnya
jiwa dan raga tertidur seketika
sesaat setelah menempuh akhir dari perjalanan
yang panjang, menegangkan, dan sangat enak itu

sambutlah aku kembali untuk kali berikutnya o BCM-ku
dan aku harus semakin kuat, memiliki energi lebih
jika kita bertemu kembali kali berikutnya

karena bagai melawan seorang musuh
yang mendapatkan energi dari luar batas kewajaran
dirimu akan semakin sulit untuk ditaklukan

walau kesatria di dalam sini
disinari oleh senjata maha kuat nan sakti
bahkan belum tahu apakah mampu kugunakan untuk mengalahkanmu
jika belum atau takut untuk kucoba

menangis dan tertawalah...

Wednesday, June 24, 2009

Untukmu O Sang Pengejar Mahkota

terakhir kali engkaulah sang kesatria jawara
langit nan riang, rumput nan wangi, demikianlah saksi
di pelanet bundar tiada berdosa ini...

menangislah kini engkau o sang kesatria tiada bertaji
kebohongan diri, kepalsuan musuh, merekalah keladi
pelanet ini memang bundar tiada berdosa...

o daratan Pisa sang pengejar mahkota...

Monday, June 22, 2009

CERPEN

Ia duduk terdiam. Tangannya terjulur kebawah, keningnya menyentuh pinggiran meja rias sebagai tumpuan dari badannya untuk bersandar. Dengan tertunduk lesu, ia menutupi hampir seluruh wajahnya dengan rambutnya, hanya menyisakan bibirnya yang tipis.

Dari kelopak matanya, tetes air mata pun keluar setelah ia tidak sanggup lagi untuk menahannya, membasahi pipinya yang kemerah-merahan. Lalu tanpa sadar, tangan kanannya telah membuka laci meja riasnya, meraih sebuah pisau silet, dan menyayatkannya ke tangannya sendiri. Darah mengucur perlahan menodai tangannya yang putih. Dadanya bisa saja bernasib sama, tentu jika ia sudah terlewat gila.

Gadis itu kini sedang menjalani perkuliahan di sebuah Universitas ternama yang jauh dari rumah orang tuanya, sehingga ia terpaksa harus tinggal di rumah kost dekat kampusnya di sana. Ia merasa tidak nyaman hidup tanpa ayahnya. Ibunya, telah lama meninggal ketika ia baru berumur 7 tahun karena sakit.

Sejak kematian ibunya, ia sangat bergantung kepada ayahnya. Begitupun ayahnya sangat perhatian terhadap putri satu-satunya tersebut. Hampir setiap malam ia menelpon ayahnya dari rumah kostnya untuk menghindari perasaan rindu.

Lebih dari satu tahun yang lalu, ia menjalin hubungan asmara dengan seorang laki-laki yang juga merupakan mahasiswa dari kampus dimana ia menjalani perkuliahannya tersebut. Seorang laki-laki berwajah putih dengan tatapan mata yang datar, dingin, namun terkesan ramah dan berwibawa. Laki-laki itu juga yang membantunya untuk memecahkan masalah pribadinya, terutama keluarganya.

Sesuatu yang membuat si gadis jatuh hati pada laki-laki itu adalah sikapnya yang tidak banyak bicara. Tetapi dari sorot matanya, terlihas jelas laki-laki itu memiliki rasa kasih sayang yang teramat besar kepada setiap orang yang dicintainya.

Suatu hari si gadis bertanya kepada laki-laki itu apakah laki-laki itu masih bersama kedua orang tuanya atau tidak. Selama menjalin hubungan asmara, mereka memang tidak pernah saling mengunjungi rumah orang tua mereka satu sama lain karena mereka berdua kini tinggal di rumah kos yang berbeda yang dekat dengan kampusnya tersebut dan juga jauh dari tempat tinggal orang tua mereka masing-masing. Saat selesai kegiatan perkuliahan pun si laki-laki belum bisa menyempatkan diri untuk pergi berkunjung ke rumah orang tua si gadis dengan alasan sibuk bekerja.

Apalagi sikap si laki-laki tersebut yang agak tertutup mengenai orang tuanya. Seakan ada sesuatu yang mengganjal di hatinya untuk menceritakan tentang orang tuanya kepada orang lain.

"Memangnya apa yang terjadi dengan mereka?" tanya si gadis.

Laki-laki itu diam sejenak. Seakan pertanyaan itu kembali mengingatkannya terhadap memori masa lalunya yang kelam. Namun si gadis merasa paham betul apa yang dirasakan laki-laki itu. Karena sejak kecil jelas ia dihidupi dengan single parent. Lalu sontak saja ia berkata bahwa ia dapat merasakan apa yang dirasakan laki-laki itu. Ia pun juga demikian. Ketika umurnya masih dua kali umur Indonesia diduduki Jepang, ibunya meninggal dunia karena sakit keras. Lalu ia dibesarkan oleh ayahnya seorang diri.

Ia mengatakan bahwa ayahnya itulah yang membuatnya tegar dalam menghadapi segala cobaan. Menurutnya, ayahnya adalah ayah sekaligus suami yang paling sempurna. Ia tidak pernah melihat hal buruk dilakukan ayahnya, baik terhadapnya, almarhum ibunya, maupun terhadap orang lain di dekatnya. Ayahnyalah yang menjadikan ia seorang bijaksana. Ia sangat mencintai ayahnya.

Senyum tipis terlihat dari bibir si laki-laki. Baginya, apa yang dirasa si gadis terhadap perasaannya, tidaklah sama dengan perasaannya sendiri. Bahkan lebih pahit.

Lalu seketika laki-laki itu berkata pelan, "Hingga umurku 6 tahun, aku dibesarkan layaknya seorang tahanan, penuh tekanan dan penderitaan. Hal itu dilakukan oleh seorang laki-laki yang nyatanya adalah ayah kandungku sendiri yang tidak bisa menerima kenyataan bahwa ia memiliki seorang anak dari hasil hubungannya dengan adik kandungnya sendiri.

Karena tidak kuat harus terus menerima kenyataan hina dan menyedihkan ini, ibuku bunuh diri saat aku masih berumur 6 tahun. Lalu aku dibesarkan oleh kerabat ibuku, aku memanggilnya paman. Ayahku hidup entah dimana bersama seorang istrinya yang telah ia nikahi 4 tahun sebelum peristiwa ibuku terjadi tanpa memperdulikanku. Saat itu mereka telah dikaruniai seorang anak."

Hati si gadis mencelos, ia merasa sangat bersalah telah menanyakan sesuatu yang sangat merupakan privasi bagi laki-laki itu. Ia bingung harus berkata apa. Hanya diam saja pun juga tidak pantas baginya dalam mengatasi situasi sulit seperti itu. Ia jadi merasa serba salah. Yang terlintas di kepalanya hanyalah kata 'maaf'. Lalu ia berkata bahwa ia sangat meminta maaf dengan apa yang baru saja didengarnya tadi, bahwa tidak seharusnya ia mendengar itu, bahwa laki-laki itu telah menceritakan terlalu banyak mengenai latar belakang keluarganya.

Angin segar memberikan sedikit kelegaan pada si gadis. Ia mengira-ngira apa yang sedang dipikirkan si laki-laki terhadap permintaan maafnya tersebut. Namun ia yakin si laki-laki tetap berhati lapang. Karena ia tahu bahwa laki-laki itu sangat mencintainya.

Lalu laki-laki itu berkata bahwa sebelumnya ia tidak pernah menceritakan hal tersebut kepada siapapun. Ia hanya mengidentitasi diri sebagai anak yatim piatu. Tanpa argumen apapun. Jadi jelas hanya si gadis itu lah orang pertama yang bisa membuka mulutnya, yang bisa menjadi tempat untuk mencurahkan segala pikiran dan perasaannya, dan yang menjadi orang terdekatnya saat ini.

Si gadis menatap mata laki-laki itu. Ia melihat jelas segala penderitaan yang dialami laki-laki itu. Bahwa tidaklah sama pengalamannya dengan laki-laki itu, melainkan jauh lebih menyakitkan jika dibandingkan dengan pengalamannya sendiri.

Si gadis menatap mata laki-laki itu lekat-lekat. Kini ia merasa sebagai orang yang telah bisa sedikit membuka hati laki-laki itu. Ia lah orang yang, bagi si laki-laki itu, dapat membagi perasaannya. Baik suka maupun duka. Ia lah sinar pencerahan bagi hati laki-laki itu yang telah lama membeku.

Si gadis terus menatap mata laki-laki itu. Lalu ia menciumnya.

"Aku sangat mencintai ibuku. Apapun yang terjadi aku bersumpah akan membalas penderitaan ibuku terhadap laki-laki terkutuk itu." Demikian kata-kata terakhir laki-laki itu ketika mereka mengakhiri perjumpaan mereka sore itu.

Saat tengah libur semester, si gadis mengajak laki-laki itu untuk ikut pergi mengunjungi rumah orang tuanya bersamanya. Laki-laki itu pun menerima tawarannya. Mungkin untuk dua atau tiga hari dia akan bermalam di rumah orang tua si gadis sebelum kembali ke rumah pamannya, pikirnya.

Pagi harinya mereka berangkat. Setibanya mereka di rumah orang tua si gadis, sang ayah sedang tidak ada di rumah seperti yang telah diketahui si gadis kemarin saat ia menelpon ayahnya bahwa ayahnya sedang pergi ke luar kota.

Mereka pun telah membersihkan badan, bersalin pakaian, serta makan malam pada hari itu. Malam harinya, mereka menghabiskan waktu dengan bercengkrama di taman pekarangan rumah orang tua si gadis, di bawah sinar purnama ke-enam.

Tak habis-habisnya si gadis mengungkapkan perasaannya pada laki-laki itu tentang betapa rindunya ia dengan ayahnya yang telah sekian bulan tidak berjumpa. Si gadis pun telah menyiapkan berbagai kejutan yang ditujukan untuk ayahnya baik benda maupun cerita.

Berjam-jam telah mereka lalui tanpa memperdulikan perasaan lelah karena seharian perjalanan dari kampus mereka ke rumah orang tua si gadis. Saat malam tengah sangat larut, mereka pun tidur.

Pagi harinya, si gadis terbangun. Tidak sedikitpun tanda-tanda keberadaan kekasihnya tersebut di rumahnya. Bahkan pembantu serta penjaga rumah ayahnya tersebut tidak melihat kemana perginya laki-laki itu. Berkali-kali si gadis mencoba menelponnya tetapi tidak tersambung. Sepertinya ponsel si laki-laki itu sedang tidak diaktifkan.

"Apakah ini lucu!" bentak si gadis kesal. Apa maksudnya meninggalkannya tanpa informasi apapun, pikirnya. Gadis itu pun bertanya-tanya dalam hati. Kemana perginya laki-laki itu. Mengapa kekasihnya itu pergi diam-diam tanpa memberitahunya. Apakah terjadi sesuatu padanya sehingga ia tidak sempat memberitahu si gadis apa alasan kepergiannya.

Dibalik perasaan marahnya tersebut, si gadis sedikit khawatir terhadap laki-laki itu. "Apakah ini pertanda buruk?" pikirnya. Namun ia tetap tidak tahu dimana dan apa yang terjadi dengan kekasihnya saat ini.

Selang tiga bulan kemudian laki-laki itu pun tidak kunjung memberi kabar. Si gadis sengaja tidak berusaha untuk mencoba menelponnya lagi untuk memberi kesan bahwa ia sangat marah dengan apa yang telah dilakukan laki-laki itu. Pergi tanpa bilang-bilang merupakan sikap yang kurang sopan. Apalagi disaat si gadis membutuhkannya karena ia merasa kesepian dengan tidak ada yang menemaninya di rumah. Ia sengaja menunggu agar kekasihnya itu menelponnya, atau memberikan kabarnya melalui cara lain.

Si ayah telah pulang ke rumahnya dua bulan yang lalu. Saat si ayah menanyakannya tentang kekasihnya itu, si gadis diam saja. Pura-pura tidak tahu apa yang terjadi padanya. Namun hati si gadis pun luluh terhadap bujukan ayahnya untuk menceritakan tentang kekasihnya itu. Akhirnya si gadis pun menceritakan apa yang sebenarnya terjadi.

Hingga ketika satu minggu sebelum kegiatan perkuliahan dimulai lagi, pagi harinya laki-laki itu menelpon si gadis. Ia mengatakan bahwa ada tugas penting dari pamannya yang mengharuskannya untuk segera pulang ke rumahnya. Ia berdalih bahwa keesokan harinya telepon genggamnya dicuri orang saat ia tengah berada di pelabuhan, maka dari itu ia tidak sempat memberi tahu si gadis alasan kepergiannya ketika itu. Sekarang pun ia menelpon si gadis lewat telepon umum. Ia tidak memberi alasan mengapa ia baru sempat menelpon si gadis tiga bulan setelahnya.

Keesokan paginya si gadis berangkat ke rumah kostnya kembali. Kali ini ia diantar oleh ayahnya memakai mobil. Minggu-minggu ini ayahnya tidak terlalu sibuk untuk bekerja sehingga dapat menemani anaknya sebelum perpisahannya kembali dalam beberapa bulan mendatang.

"Belum ada keterangan bahwa ia akan kembali," begitulah jawaban ibu kost dari rumah kost dimana laki-laki itu tinggal saat si gadis menanyakan tentang keberadaannya. Ia semakin bingung akan ketiadaan kekasihnya tersebut. Benaknya dipenuhi berbagai pertanyaan seputar keberadaan dan apa yang dilakukan kekasihnya tersebut saat ini.

Si gadis menjalani sisa liburnya di rumah kostnya dengan seorang diri. Ia memang tidak terlalu suka menghabiskan waktunya bersama mahasiswi-mahasiswi lainnya yang juga tinggal di rumah kos yang ia tempati saat itu. Juga pada teman-teman seperkuliahannya.

Besok adalah hari dimana si gadis akan memulai kegiatan perkuliahannya kembali. Pagi hari itu tidak begitu cerah. Agak sedikit gerimis. Di bagian selatan, awan hitam memenuhi pandangan dan menghalangi birunya langit. Pertanda bahwa hari itu akan didatangi hujan lebat.

Si gadis tengah berada di kamar kostnya sembari mendengarkan lagu-lagu di iPod-nya untuk menghindari sepi. Tiba-tiba, seseorang mengetuk pintu kamar kostnya dari luar. Dia adalah ibu kost dari rumah kostnya tersebut. Matanya merah dan mengisakkan air mata.

Si gadis terheran-heran mengenai apa yang sedang terjadi. Sebelum ia sempat menenyakan perihal apa yang terjadi kepada ibu kostnya tersebut, dengan tatapan penuh rasa iba, sontak si ibu kost berkata, "seseorang telah menunggumu di luar, tabahkan hatimu nak."

Ia tidak tahu apa maksud perkataannya. Jelas ini merupakan pertanda buruk baginya. Ia bertanya-tanya dalam hati. Apakah gerangan yang terjadi padanya. Ia mengikuti si ibu kost dari belakang menuju ruang tamu. Seorang pria tinggi besar yang dikenalnya sebagai sopir pribadi ayahnya tengah berdiri saat kedatangannya ke ruang tamu.

Seraya membuka topi pet-nya tanda penghormatan terhadap seorang majikan, pria itu berbisik kepadanya, "seseorang telah masuk melewati jendela kamar ayahmu tadi malam. Dia menghunuskan beberapa tusuk belati ke dada ayahmu hingga membuatnya kehabisan darah. Namun pria itu kini telah berada di kantor polisi dengan menyerahkan diri. Aku turut berduka, putri kecil."

Hati si gadis mencelos. Ia sangat tidak percaya akan apa yang baru saja didengarnya. Seakan vertigo melingkari kepalanya, ia jatuh di pelukan pria besar itu. Dadanya penuh sesak seakan tak kuasa menahan kenyataan yang terjadi terhadap ayahnya, terhadap dirinya, serta terhadap perasaannya.

Kini ia merasa seorang diri, benar-benar sendiri. Ia merasa serba salah. Mengapa kekasihnya itu tidak ada di sisinya saat ia tengah merasa jatuh. Rasa sedih bercampur marah memenuhi perasaannya. Wajahnya dipenuhi air mata, membasahi jaket kulit si pria besar itu.

Bahkan ia tidak tahu selanjutnya. Bagaimana ia bisa menjalani hidup seorang diri. Bagaimana ia bisa melewati masa-masa sulit tanpa kehadiran ayahnya. Rasa ketergantungan kepada ayahnya tidak dapat ia lepaskan begitu saja. Namun, ia harus menerima kenyataan, bahwa ayahnya telah tiada, bahwa laki-laki yang menjadi bagian dari hidupnya, yang menjadi pelampiasan keluh kesalnya, yang menjadi sesuatu yang membuat hidupnya penuh arti, kini telah tiada.

Hidup memang sulit untuk ditebak. Apa yang menjadi senjata baginya, kini menjadi bumerang bagi dirinya sendiri. Membuatnya terpuruk dengan kehilangannya. Membuatnya hancur atas kepergiannya.

Tiga hari telah berlalu sejak kepergian ayahnya. Namun wajahnya masih sangat pucat pasi, penuh kehilangan dan kesedihan yang mendalam. Sejenak ia teringat akan kata-kata kekasihnya tersebut bahwa kekasihnya tersebut akan membalas perbuatan seseorang yang telah membuat ibunya menderita.

Seketika pikirannya pun dipenuhi perasaan dendam terhadap pria yang tega membunuh ayahnya tersebut. Lalu ia minta diantarkan sopir pribadi almarhum ayahnya tersebut untuk pergi ke tempat dimana pria yang tega membunuh ayahnya tersebut ditahan.

Sesampainya di sana, mereka berdua lantas diantar petugas menuju sel dimana pria itu ditahan. Mereka berjalan melewati labirin-labirin penjara yang dingin, melalui beberapa gerbang sel, lalu sampai di sebuah sel yang hanya berisikan sesosok tubuh.

Seketika mata gadis itu terbelalak. Seakan semua ini hanya mimpi. Si gadis tidak menyangka apa yang sedang dilihat oleh kedua bola matanya saat itu. Di dalam sel itu, berdirilah seorang pria berambut hitam lurus, dengan wajah putih dan mata datar. Kekasihnya tengah berdiri di hadapannya. Hanya pagar jeruji besi yang berdiri memisahkan keduanya.

"Sekarang kamu tahu, apa yang membuatku pergi meninggalkanmu seorang diri di rumah orang tuamu ketika itu. Ya, aku tidak menyangka, di rumah itu, aku telah melihat foto orang yang tengah aku cari selama bertahun-tahun ini. Akulah yang membunuh ayahmu, adikku."

***

Sunday, May 31, 2009

Imajinasi dan Suara Hati

Banyak orang bijak bilang, teruslah berimajinasi, jangan biarkan pikiran tentang hal-hal menakutkan menutup imajinasimu. Begitulah kata Mario Teguh. Yah, di buku The Secret juga disebut, apa yang kita imajinasikan adalah cerminan dari keadaan kita kelak.

Entahlah, saya pikir, kalau cuma bermimpi kan gak bisa menyelesaikan persoalan. Tapi anehnya, selama ini filosofi itu sah-sah aja dalam hidup saya. Contohnya, kalau saya berpikir akan berhasil melakukan sesuatu, pasti berhasil. Sebaliknya, kalau saya membayangkan gak mampu melakukan sesuatu, pasti bener-bener gagal, atau dapat hasil yang kurang maksimal.

Entahlah ini bener atau ngga. Tapi yang pasti saya gak akan mau ngebayangin diujung baseman ada tempat parkir kosong ketika kendaraan sedang pada rebutan nyari tempat parkir kosong (haha lebai).

Dalam The Alchemist-nya Paulo Coelho, katanya hal yang paling menyiksa ketika jatuh adalah rasa takut jatuh itu sendiri, bukan rasa sakit akibat jatuh. Emang bener sih, kadang rasa takut itu yang ngalahin saya.

Kadang kalau saya lagi punya masalah dan gak percaya sama sahabat-sahabat bisa ngebantu nyelesain persoalan, saya suka berimajinasi sendiri. Saya ngebayangin suara hati saya yang "berlogika" ada di depan saya. Dia menyerupai seorang gadis, bermata tajam, agak sipit, rambutnya panjang, kadang bergelombang kadang ngga, sesuai bayangan saya ke dia at the time. Mulut dan dagunya tipis, kecil, serasi banget deh sama bentuk mukanya.

Nah kadang saya ngobrol sendiri dalam hati sama dia. Dia selalu ngasih penjelasan yang logis buat nyelesain masalah saya itu. Anehnya, dia selalu senyum ke saya. Padahal kadang saya ngga dengerin setiap kata-katanya.

Kata sang Alkemis, kita harus selalu dengerin apa kata suara hati kita. Saya cuma ngikutin saran dia pakek cara saya sendiri. Namun, ada yang saya tambah-tambahin, yaitu suara hati yang berlogika, biar gak jadi suara ego. Karena menurut saya suara hati bisa salah, tapi logika nggak. Binatang punya hati, manusia juga, tapi binatang ga punya logika kayak manusia.