Semua ini berawal dari hilangnya uang 250 ribu dalam amplop titipan pelanggan produk nyokap gw...
Setiba di rumah, tanpa pikir panjang gw langsung menuju kamar. Gw copot kemeja gw, tas, baju, celana panjang, dan sepatu. Lalu gw lempar dengan asal ke sudut kamar gw. Entah kenapa dari kecil gw memang nyaman melihat kondisi kamar gw yang bak pasar impres itu. Penuh barang tak beraturan dimana-mana. Walau terkadang membuat nyokap teriak-teriak.
Gw liat jam dinding, sudah setengah tujuh malam. Perjalanan dari Kalimalang ke Depok dengan sepeda motor pada waktu-waktu seperti itu memang benar-benar menyiksa badan. Maklum, jam pulang kerja. Sehingga mau lewat Keramat Jati, Halim, Condet, atau Pasar Minggu ga akan ada yang bisa hindari macet. Sedetik kemudian gw rebahkan tubuh gw ke tempat tidur. Dengan posisi tengkurap. Sedetik berikutnya semua rasa lelah, letih, dan lesu hilang seketika digantikan dengan perasaan mengantuk yang berlebihan.
Tiba-tiba dari sudut luar kamar, gw mendengar nyokap memanggil,"Dimaass... Gimana tadi barangnya?? Sudah kamu kasih ke pakde Parno toh??"
"Sudaaoooaahh.." jawab gw dibarengi dengan menguap.
"Terus uangnya??" Lanjutnya.
"uangnya??" berkata gw dalam hati.
Gw periksa seluruh kantung celana Jeans gw, kemeja gw, hingga ke dalam tas gw, tapi gw tak kunjung menemukan amplop berisi uang sebesar, kira-kira 250 ribu rupiah, titipan dari pelanggan produk nyokap yang tadi ia titipkan ke gw tersebut. Hanya korek gas, uang 100 ribu sisa gaji magang gw bulan ini, dan kunci motor aja barang-barang yang gw temukan. Gw periksa sekali lagi, dua kali, dan untuk ketiga kalinya sebelum akhirnya gw menyerah, hasilnya sama saja. Tidak ada amplop putih tebal berisikan uang yang dilipat.
Deeggg...!
Perasaan gw mulai panik, pikiran gw kacau, disertai badai mengantuk yang berlebihan hasil dari perjalanan yang gerah dan membosankan tersebut. Lalu gw teringat ketika gw mengeluarkan amplop berisi uang itu saat selesai acara seminar di kampus teman gw tadi. Ketika itu teman gw, Vicky, bermaksud ingin menukarkan uangnya ke gw. Lalu gw keluarkan amplop itu, dan gw suruh Vicky untuk mencari sendiri di dalam amplop itu, namun perhatiannya justru teralih ke teman gw satu lagi, Etmon, yang mengajak berbincang tentang cara membawa amplifier segede gaban dengan naik sepeda motor. Dan seingat gw, amplop itu belum gw masukan lagi ke dalam kantong sebelum kami meninggalkan tempat tersebut.
Dengan segera gw lari ke luar pintu rumah, nginjek sepatu cepat-cepat, dan langsung berlari menuju sepeda motor gw di garasi. Sasaran gw ialah ke rumah Etmon, yang tadi dia juga ikut pergi ke seminar di kampus Vicky bareng gw.
Sesampainya gw di rumah dia yang hanya berjarak beberapa ratus meter dari rumah gw, gw langsung temuin dia di kamarnya.
"Mon, ada masalah..." kata gw.
"Kenapa Dim?" tanyanya.
"Duit gw ilang, 250 ribu. Er..bukan duit gw sih, tapi apa jadinya kalo gw bilang ke nyokap kalo duit titipan buat dia ilang..."
"Er... tunggu-tunggu Dim." potongnya. "Mending lw ngomong yang bener. Duit yang mana? Ilangnya dimana? Terus apa ada hubungannya sama gw?" lanjutnya.
"Waktu selesai seminar tadi, lw inget ga gw ngejatuhin amplop pas kita lagi ngomongin tentang cara bawa ampli?" tanya gw.
"Maksud lw, kertas yang lw banting itu?"
"Nah itu dia.."
"Er...Jangan bilang, ketingga-..."
"IYAA, gw lupa masukin kantong lagi!"
Tanpa pikir panjang Etmon langsung ngambil helmnya, dan lari menuju pintu kamarnya sebelum akhirnya berhenti dan melihat ke arah gw. "Jangan kayak orang idiot gitu, ayo cepet!!"
"Lw mau ngapain??" tanya gw.
"Ya balik ke kampus Vicky lah!! Lw ga mau ambil itu duit?!"
"Lw yakin masih ada?"
"Ga ada salahnya dicoba bodoh..." balasnya.
Malam itu juga gw berdua kembali ke kampus dimana gw ngejatuhin duit titipan nyokap gw itu. Di jalan, gw berdua ngga ngobrol sambil cekikikan seperti biasanya. Mungkin karena rasa lelah yang membius gw berdua.
Akhirnya kami sampai di kampus yang terletak di bilangan Kalimalang tersebut. Sebelum kami masuk ke gerbang utamanya, gw berkata kepada Etmon,"Mon, kalo itu duit gw temuin, gw janji bakal traktir lw makan buat malem ini. Lagian lw mau-mauan aja balik lagi kesini. Maksud gw ke rumah lw tadi itu tuh gw mau nanya nomor hp cewenya Vicky. Si Vicky hpnya ga aktif, yah kali aja mereka tadi masih di kampus. Bisa gw minta tolong cariin amplop gw kan gituh.."
"Udahlah, jangan berlagak banyak duit deh luh... Ada banyak Dim, orang yang mengharapkan duit segitu.." balas dia.
"iy sih.." kata gw.
Setelah gw parkirin motor, kami langsung menuju lift untuk naik ke lantai 4. Kami melewati beberapa lorong menuju auditorium, tempat acara seminar tadi telah berlangsung. Setelah melewati beberapa pintu, kami melihat pintu besar yang merupakan satu-satunya jalan masuk ke aula itu. Aula itu sudah bersih dari sampah-sampah kertas dan box makanan bekas acara seminar tadi. Namun tidak seperti yang gw bayangkan sebelumnya, yang awalnya gw pikir aula itu sudah sepi dan tidak dipakai untuk kegiatan apapun lagi di dalamnya, aula yang terdiri dari tiga bagian lapangan bulu tangkis itu kini dipakai oleh beberapa mahasiswa untuk bermain bulu tangkis di dua garis-gari kotak yang membentuk lapangan bulu tangkis tersebut, dan parahnya lagi, di satu lapangan lainnya dipakai oleh wanita-wanita sexy nan aduhai untuk latihan dance.
"Oh tidaaak.. Apa yang bakal kita lakukan Mon? Lw lihat, tempat sampah satu-satunya di ruangan ini ada dipojok kanan itu. Mau kau taruh dimana muka kita di depan anak-anak dance itu..."
Tanpa satu katapun, Etmon langsung berjalan melewati gw menuju tong sampah tersebut. Gw juga akhirnya mengikuti dia dari belakang setelah mengucap beberapa kutukan dan umpatan kepada diri gw sendiri, yang bisa seceroboh itu membuang amplop berisi uang.
Sesampainya kami di pojok ruangan tempat bertenggernya sebuah tong sampah kumal yang dilapis dua bagian karena bagian bawahnya yang sudah pecah termakan usia itu, Etmon langsung mengarahkan tangannya ke sisi benda paling hina yang ada di ruangan itu sembari menatap mata gw dan dilanjutkan dengan anggukan singkat.
Dengan malas akhirnya gw juga mengikuti tindakan semi-nekatnya dengan gw memegang sisi tong tersebut dan Etmon di sisi sebrangnya. Sambil jalan dan melakukan tindakan yang sudah jelas menarik perhatian semua orang yang ada di ruangan itu, Etmon berkata pelan tanpa melihat ke arah gw,"Tetep Stay cool Dim.."
Gw tau, jika gw memegang tong sampah itu sambil cengar-cengir tolol, malah akan menambah gw berdua terlihat lebih tolol lagi. Jadi gw mau ga mau ngikutin apa kata temen gw satu itu tadi.
Sesampainya di luar aula, gw mencari-cari ruangan yang bisa gw gunakan buat menggeledah isi dari tong sampah yang ga sampe setengahnya tersebut.
"Disana Mon..." Seru gw sembari menunjuk ke salah satu gang sempit yang ujungnya buntu dan juga merupakan tempat dimana diletakan berbagai alat kebersihan seperti sapu, pengki, dan juga sebuah tong sampah besar yang menurut gw berfungsi sebagai induk tong sampah dari beberapa sub tong sampah yang lebih kecil darinya seperti yang sedang gw bawa saat itu.
"Lw periksa gih Dim.." Perintah Etmon kepada gw.
Setelah beberapa menit gw periksa dengan bantuan gagang sapu rusak yang gw ambil ngga jauh dari tempat gw berdiri, gw ngga kunjung menemukan barang yang gw cari.
"Haaah.. Tuh kan Apa gw bilang Mon. Kita tuh ga bakal seberuntung yang lw kira."
Mendengar perkataan gw, Etmon hanya terdiam membisu. Mirip kodok dungu yang kepalanya dipasak sampai tembus ke badannya sehingga menyebabkan tubuhnya tidak bisa bergerak.
"Yah se-engganya kita udah nyoba Dim."
Gw mengiyakan perkataan Etmon yang akhirnya memecah keheningan tadi dengan anggukan singkat. Nyesel juga sebenarnya, karena menurut gw amplop itu adalah sebuah tanggung jawab gw. Dengan menghilangkannya dan bilang ke nyokap bahwa uangnya hilang berarti gw tidak bertanggung jawab dalam melaksanakan tugas. Selain part time di outbound tempat abangnya temen gw, kegiatan gw saat libur kuliah untuk sekedar mengisi waktu dan mendapat uang jajan adalah juga dengan ngebantu nyokap menjalani usahanya dengan gw bekerja sebagai kurirnya. Lalu apa jadinya jika gw bilang ke nyokap bahwa uangnya hilang. Dimana sikap keprofesionalitasan dan tanggung jawab gw. Masih untung ini sama nyokap, apa jadinya jika gw bekerja dengan orang lain lalu gw melakukan keteledoran yang sama semacam ini lagi.
Yah gw emang selalu mengambil segi positif dari setiap kejadian. Mungkin ini peringatan untuk diri gw sendiri agar gw tidak bersikap semberono lagi. Seperti yang diajarkan di outbound tempat tempat gw part time, yaitu experience learning, gw harus belajar dari pengalaman gw sendiri dan juga orang lain dalam menyelesaikan setiap persoalan.
Setelah beberapa menit gw dan teman gw satu itu diam tanpa suara kembali, tiba-tiba kami melihat seorang petugas kebersihan gedung itu yang sedang berjalan beberapa meter di depan kami. Lalu dengan segera Etmon mendekatinya
"Maaf permisi pak. Kalau saya boleh tahu, yang membersihkan ruang auditorium setelah acara seminar tadi siapa ya? Anda atau orang-orang dari panitia tadi?" Tanya etmon.
"Oohh itu bukan saya, melainkan dari bagian serba-serbi." Jawab petugas itu. "Memangnya ada apa? Ada yang ketinggalan?" Tanyanya lanjut.
"Iya pak." Jawab gw. "Er... Kira-kira sampah dari acara itu dibuang kemana ya?" Tanya gw kepada petugas itu.
"Waah kalau itu sudah ga ada disini mas. Sudah dibuang ke pelbak." Jawabnya. "Tuh disebelah sana, di belakang gedung ini." katanya kembali sembari menunjuk ke arah Barat.
Gw mulai pasrah, mungkin perkataan temen gw bahwa salah satu belajar yang paling susah di dunia ini ialah belajar ikhlas adalah benar. Namun pernyataan itu sempat terbantah di pikiran gw sebelum gw hanyut dalam kepasrahan. Dengan ikhlas seperti itu berarti gw harus sabar. Padahal kata sabar adalah kata yang paling gw benci di dunia ini. Kenapa? Karena seperti kata orang bijak, sabar itu bukanlah sebuah sifat seperti yang pernah diajarkan nabi Muhamad S.A.W kepada umatnya, melainkan sebuah akibat. Akibat dari kita karena tidak berhasil mendapatkan sesuatu. Dalam benak gw mengatakan bahwa dengan begitu hidup kita akan selalu monoton dan sulit berkembang jika kita selalu sabar.
Akhirnya semangat gw menggelora lagi. Sejak dari rumah, pikiran gw memang berimajinasi tidak lain dari menemukan amplop berisi uang tersebut. Sehingga gw mengurungkan niat untuk tidak mencarinya di pelbak. Dengan segera gw mengajak Etmon menuju sana. Kami kembali menuju lift untuk turun ke bawah. Setelah sampai di bagian barat gedung itu, kami melihat dua buah tempat sampah besar berukuran sekitar 3x2x1 meter dari kejauhan. Dengan segera kami menuju sana.
"Ga ada salahnya Mon kita nyoba liat situasi disana. Kalo situasinya ngga memungkinkan buat kita cari, yah kita ga usah memaksakan." Kata gw kepada Etmon ketika kami sedang menuju ke tempat itu.
Tidak seperti yang gw duga sebelumnya, ternyata tempat sampah itu berisi sampah-sampah baru yang belum membusuk. Sebagian besar hanya berisi sampah kertas. Namun yang namanya tempat sampah tetap saja bau tidak enak.
"Ini giliran gw Mon. Lw udah cukup membantu gw sampai disini. Biar gw yang urus semua ini." Kata gw kepada Etmon sembari menatap tempat sampah itu dengan tatapan tajam bagaikan menatap musuh yang besar dan kuat namun yakin akan dapat ditaklukan layaknya kesatria-kesatria yang pernah gw baca di dalam kisah-kisah kesatria.
Bagai Achellis ketika menyerang keangkuhan TROY, bagai Harry Potter ketika berhadapan dengan musuh yang menginginkan dirinya, Lord Voldemort, dan bagai Eragon ketika harus melawan musuh yang awalnya adalah temannya, Murtagh, dengan sebatang bambu, gw aduk sampah itu, berusaha mengalahkannya hingga menemukan kemenangan dengan menemukan amplop gw tersebut.
Dengan keringat yang terus mengalir akibat beratnya bambu yang gw pegang dan juga bau dari sampah itu, gw terus mengaduk. Setelah semenit dua menit gw mengaduknya sambil sekali berhenti untuk mencari amplop gw tersebut, akhirnya gw menyerah ketika sudah memasuki menit ke-tiga. Gw ga tahan bau sampahnya. Dengan kesal, gw dorong bambu yang ujungnya masih tertanam di tumpukan sampah yang didominasi dengan kertas itu sehingga menyebabkan sampah yang berada dibawahnya mencuat keatas.
Sedetik kemudian, gw melihat lipatan kertas putih yang agak lembab dan sebagian sisinya basah terkena sampah cair ikut keluar berbarengan dengan sampah kecil lain yang mencuat akibat dari tebasan terakhir pedang berbilah dua gw tadi itu. Dengan seksama gw perhatikan benda itu, agak mirip dengan amplop gw tadi. Lalu gw ambil dengan ujung jari gw, dan gw buka lipatannya pelan-pelan. Benda itu ternyata amplop. Lalu ketika ge sobek bagian atasnya, gw melihat beberapa lembar uang mencuat dan menampakan dirinya ke gw.
"AHAHAHAAHHHH...!!!" seru gw. "KETEMU MOOONNN...!!!"
Dengan muka bodoh, kami langsung saling bertossan dan tertawa cekikikan seperti kebiasaan gw berdua atau berempat dengan para sahabat gw yang lain. Kami benar-benar ga menyangka jika amplop itu bisa ketemu kembali. Mungkin ini akibat dari pikiran gw yang sejak dari rumah selalu berimajinasi tentang "menemukan amplop tersebut", yang biasa orang sebut sebagai 'the power of mind' atau kekuatan pikiran. yah, dulu gw memang ga percaya dengan adanya 'the power of mind' tersebut. Karena menurut gw hal itu ga bisa dideskripsikan secara ilmiah. Namun seiring waktu dan kejadian-kejadian yang pernah gw alami, gw merasakan adanya kekuatan pikiran tersebut. Apalagi didukung dengan kejadian tadi.
Yah mungkin lain waktu gw mau ngebahas tentang 'the power of mind' itu tadi... hihi
No comments:
Post a Comment