Monday, January 21, 2019

Perbedaan, Intoleransi, dan Haruki Murakami

"Orang-orang intoleran, yang berpikiran pendek dan minim imajinasi, mereka seperti parasit."


Demikian penggalan percakapan dalam "Kafka on the Shore"-nya Haruki Murakami. Saya terhenti sejenak ketika membaca bagian ini. Teringat apa yang sedang saya pikirkan dan alami.

Akhir-akhir ini saya sering termenung. Ternyata cukup banyak orang di sekeliling saya yang sangat berbeda pandangan. Saya memang bukan orang yang pandai bergaul. Namun cukup banyak lingkar pertemanan yang saya buat dari berbagai momen. Misal, sekolah, lingkungan rumah, kampus, hingga kantor.

Perkembangan teknologi, juga tuntutan sosial yang membuat manusia mau tidak mau harus terus berinteraksi, menciptakan sistem komunikasi yang lebih intens. Sebut saja grup WhatsApp. Tidak ada aturan baku bagaimana kita harus berkomunikasi. Ketika sedang bekerja, bertatap muka langsung dengan orang-orang di kantor, tiba-tiba handphone bergetar menandakan sebuah pesan WhatsApp masuk. Pengalaman komunikasi nyata di kantor dalam sekejap beralih via daring.

Salah seorang teman menyebar meme di grup. Seperti biasa, semua terhibur. Demikian seterusnya yang terjadi setiap hari. Tidak jarang pula saya yang mengawali percakapan.

Grup itu berisi kurang dari sepuluh orang. Ada laki-laki, ada perempuan, semuanya pernah mengenyam pendidikan di perguruan tinggi. Pada waktu senggang di kantor, saya sering terhibur ketika ikut masuk dalam percakapan. Kondisi itu memberi sedikit rekreasi bagi otak yang seharian sibuk memikirkan pekerjaan.

Namun, saya sedikit terganggu ketika pembicaraan sudah masuk arah politik. Beberapa anggota grup, secara terus terang mengungkapkan kebenciannya pada salah satu partai politik atau capres.

Iya, KEBENCIAN, bukan cuma kritikan.

Mereka bahkan tidak sadar dengan dampak ucapannya bagi teman-teman lain di grup. Mereka mungkin hanya mengenyam suatu isu, berpendapat, dan tanpa pikir panjang langsung melempar opininya ke grup seakan-akan orang lain akan memahami dan setuju dengan apa yang diucapkan. Sikap semacam ini kerap kali berujung pada intoleransi.

Bagaimana reaksi di grup setelah itu? Ada yang mendukung. Ada pula yang, karena sudah tau berbeda pandangan dengan teman lain, memilih diam atau menyampaikan komentar pragmatis. Saya? Seperti biasa menyebar 'shit posting' untuk mengalihkan pembicaraan.

Namun satu hal yang saya sadari. Sebagian besar dari mereka bukanlah orang yang layak saya ajak diskusi tentang isu-isu terkini, termasuk politik. Bukan berarti saya tidak menerima perbedaan pandangan. Banyak orang yang saya anggap beda pandangan tetapi masih saya ajak diskusi. Atau minimal, saya follow di Twitter. Sebab menurut saya, perbedaan sesungguhnya bisa meningkatkan kemampuan berpikir, jika direspons dengan benar. Namun untuk kasus tertentu, saya tidak bisa menerima orang-orang semacam itu.

Mengapa saya agak risau jika masuk ke obrolan politik, tak lain karena alasan tersebut. Dan sejujurnya, isu-isu politik adalah bagian dari pekerjaan saya sehari-hari dalam sebuah media massa.


Dalam Kafka on the Shore, Haruki Murakami tak segan menyebut para intoleran sebagai orang-orang yang minim imajinasi.


Bagi saya Haruki penulis cerdas. Ia membuat pembacanya bertanya-tanya lebih jauh apa yang ia tulis. Sama halnya seperti peneliti, hasil riset mereka akan memberi dampak yang jauh lebih luas apabila bisa menciptakan pertanyaan-pertanyaan lain untuk diteliti. Bukan memberi jawaban bagi semua persoalan. Seperti itulah tulisan Haruki.

Haruki menyebut soal intoleransi lewat karakter bernama 'Oshima'. Ia seorang penjaga perpustakaan yang gemar membaca, dan tidak banyak berinteraksi. Menurut Oshima, ada beberapa orang yang ia anggap 'berbeda', yang justru dapat masuk ke kehidupannya. Di sisi lain, ia sangat membenci orang yang berpikiran pendek dan minim imajinasi. Ia punya alasan khusus mengapa membenci mereka. Tak lain karena ia kerap mendapat diskriminasi dari orang-orang semacam itu. Ya, Oshima adalah seorang gay.

‘Berbeda’ dengan ‘minim imajinasi’ menjadi dua konsep yang saling berlawanan bagi Oshima untuk menilai seseorang.

Makna kata ‘berbeda’ yang digunakan Haruki dengan yang terkonsep di kepala saya mungkin saja berlainan. Namun sesungguhnya saya juga berpendapat, beberapa orang punya sesuatu yang berbeda yang justru dapat menarik perhatian.

Apa yang membuat mereka berbeda, saya tidak terlalu yakin. Penampilan fisik? Jelas bukan. Intelegensia? Tidak juga. Pola pikir? Ah, mungkin saja. Bagaimana cara orang lain berpikir kadang menarik bagi saya. Misal, saya sering memperhatikan mengapa rekan kerja di sebelah saya suka genre film tertentu; mengapa orang terdekat saya begitu menggilai K-pop; atau mengapa orang tua saya sangat membenci capres, cagub, atau tokoh politik tertentu apa pun alasannya.

Saya tertarik menerka-nerka atau mengajak diskusi untuk memahami cara mereka berpikir. Jika tidak menemukan sesuatu yang lebih menarik, maka saya akan berhenti, dan tidak tertarik lagi.

Ya, itu tadi soal ‘berbeda’. Lalu bagaimana dengan ‘minim imajinasi’?

“Orang yang paling menjijikan bagiku adalah mereka yang tidak punya imajinasi," kata Oshima.

Menurut Oshima, orang-orang seperti itu bahkan tidak sadar dengan apa yang mereka lakukan. Mereka kerap melontarkan cacian ke orang lain, seenaknya, tanpa perasaan. Bahkan memaksa orang lain melakukan hal yang tidak mereka suka. Oshima menegaskan, ia sama sekali tidak peduli tentang apa isu yang diperjuangkan seseorang. Baik itu LGBT, feminisme, fasisme, komunisme, atau hal lain. Namun satu hal yang paling ia benci, meminjam istilah Thomas Stearns Eliot, adalah hollow people, yaitu orang-orang tanpa imajinasi.

Dalam kisah lain pada novel itu disebutkan, Oshima menganggap orang-orang semacam itulah yang membunuh kekasih Miss Saeki, atasannya, ketika masih muda. Di suatu malam, seorang pria berusia 20-an tahun sedang jalan sendirian. Tiba-tiba ia ditangkap sekelompok pemuda lainnya, dan dituduh sebagai mata-mata geng lain. Karena tidak mengaku saat diinterogasi, ia dipukul ramai-ramai hingga tewas. Ternyata dia adalah korban salah tangkap dalam sebuah kerusuhan antar-geng. Ia mati sia-sia. Kematian tragis itu meninggalkan trauma yang sangat dalam pada diri Miss Saeki, bahkan mempengaruhi hidupnya hingga tua.

Membaca novel ini, saya mendapat sebuah kesimpulan. Haruki Murakami memandang mereka yang kerap melakukan tindakan intoleransi, persekusi, atau tidak bisa menerima pandangan orang lain adalah sekelompok orang yang tidak cukup punya imajinasi. Mereka bahkan tidak sadar dengan apa yang mereka lakukan.

Orang-orang semacam itu, agaknya, hanya mengenyam suatu informasi, kemudian berpikir secara sederhana. Celakanya, mereka tanpa sadar telah memaksa orang lain untuk sependapat dengan pikiran pendek mereka. 

No comments:

Post a Comment