Friday, November 26, 2021

Alasan Hidup dan Mati

"Ah, agaknya terlalu berlebihan." Itu yang terlintas di kepala ketika saya menulis judul tulisan ini. Berlebihan. Memang. Tidak banyak orang yang ingin membicarakan alasan hidup atau mati. Kebanyakan kita terlihat biasa-biasa saja untuk menerima keadaan saat sedang bernyawa. Tidak protes, tidak ribut, apalagi mempertanyakan mengapa semua yang hidup pasti akan mati.

Suatu sore seorang teman mengirim tautan artikel yang kira-kira berjudul "Alasan Kenapa Kamu Harus Tetap Hidup". Tanpa ragu saya langsung klik tautan tersebut lalu membacanya sekilas. Isinya memang kumpulan alasan. (What do I expect?)

Memangnya kita butuh alasan untuk hidup? Jika tidak ada, apakah mati adalah pilihan paling tepat?

Saya ingat ketika kecil, pernah tebersit cita-cita menjadi pemain sepak bola. Kemudian saat remaja, menjadi musisi rasanya adalah hal yang paling saya dambakan. Sekarang saya jelas bukan seorang pesepak bola atau pun musisi, meski kedua profesi tersebut pernah menjadi harapan untuk hidup kala itu. 

Semakin lama hidup dan semakin banyak harapan yang pernah dijunjung, semakin saya sadar bahwa tak sedikit kenyataan yang berbeda jauh dengan ekspektasi.

Alasan menciptakan harapan. Harapan memunculkan ekspektasi. Seperti dua sisi mata uang, harapan membuat manusia ingin tetap hidup, namun harapan juga yang pelan-pelan membunuh manusia. Sementara kita cenderung mencari alasan ketika tidak yakin dengan pilihan. Entah memilih cita-cita hidup, mengakhiri hidup, atau menentukan seseorang untuk menemani hingga akhir.

Alasan dicari hanya untuk mengamini kebohongan.

Ketika mencintai seseorang, apakah kita butuh alasan? Apakah karena dia cantik/tampan, baik, seksi, atau mungkin dia berwawasan luas sehingga enak menjadi teman ngobrol? Padahal ada jutaan lusin manusia cantik/tampan, baik hati, menggairahkan dan berwawasan luas lainnya yang bisa kita cintai, jika memilih hal-hal tersebut sebagai alasan.

Kita tidak butuh alasan untuk menentukan apapun pilihan, karena hidup terjadi begitu saja. Jika besok mati, bersyukur lah. Sebab telah lepas dari seluruh tugas dan tanggung jawab di dunia. Namun jika waktu masih panjang, jalani saja. Sebab, miskin jauh lebih menakutkan daripada mati.

No comments:

Post a Comment