"Orang-orang intoleran, yang berpikiran
pendek dan minim imajinasi, mereka seperti parasit."
Demikian penggalan percakapan dalam "Kafka on the
Shore"-nya Haruki Murakami. Saya terhenti sejenak ketika membaca bagian
ini. Teringat apa yang sedang
saya pikirkan dan alami.
Akhir-akhir ini saya sering termenung. Ternyata cukup banyak orang di sekeliling
saya yang sangat berbeda pandangan. Saya memang bukan orang yang pandai
bergaul. Namun cukup banyak lingkar pertemanan yang saya buat dari berbagai
momen. Misal, sekolah, lingkungan rumah, kampus, hingga kantor.
Perkembangan teknologi, juga tuntutan sosial yang membuat
manusia mau tidak mau harus terus berinteraksi, menciptakan sistem komunikasi
yang lebih intens. Sebut saja grup WhatsApp. Tidak ada aturan baku bagaimana
kita harus berkomunikasi. Ketika sedang bekerja, bertatap muka langsung dengan
orang-orang di kantor, tiba-tiba handphone bergetar menandakan sebuah pesan WhatsApp masuk. Pengalaman komunikasi nyata di kantor
dalam sekejap beralih via daring.
Salah seorang teman menyebar meme di
grup. Seperti biasa, semua terhibur. Demikian
seterusnya yang terjadi setiap hari. Tidak jarang pula saya yang mengawali percakapan.
Grup itu berisi kurang dari sepuluh orang. Ada laki-laki, ada perempuan,
semuanya pernah mengenyam pendidikan di perguruan tinggi. Pada waktu
senggang di kantor, saya sering terhibur ketika ikut masuk dalam percakapan. Kondisi itu memberi sedikit
rekreasi bagi otak yang seharian sibuk memikirkan pekerjaan.
Namun, saya sedikit terganggu ketika pembicaraan sudah masuk
arah politik. Beberapa anggota grup, secara terus terang
mengungkapkan kebenciannya pada salah satu partai politik atau capres.
Iya, KEBENCIAN, bukan cuma kritikan.
Mereka bahkan tidak sadar dengan dampak ucapannya bagi teman-teman lain di grup. Mereka mungkin hanya mengenyam
suatu isu, berpendapat, dan tanpa
pikir panjang langsung melempar
opininya ke grup seakan-akan orang lain akan memahami dan setuju dengan apa yang diucapkan. Sikap semacam ini kerap kali berujung pada intoleransi.
Bagaimana reaksi
di grup setelah itu? Ada yang mendukung. Ada pula yang, karena sudah tau
berbeda pandangan dengan teman lain, memilih diam atau menyampaikan komentar
pragmatis. Saya? Seperti biasa menyebar
'shit
posting' untuk mengalihkan
pembicaraan.
Namun satu hal yang saya sadari. Sebagian besar dari mereka
bukanlah orang yang layak saya ajak diskusi tentang isu-isu terkini,
termasuk politik. Bukan berarti saya tidak menerima perbedaan pandangan. Banyak
orang yang saya anggap beda pandangan tetapi masih saya ajak diskusi.
Atau minimal, saya
follow di Twitter.
Sebab menurut saya, perbedaan sesungguhnya bisa meningkatkan kemampuan
berpikir, jika direspons dengan benar. Namun untuk kasus tertentu, saya tidak
bisa menerima orang-orang semacam itu.
Mengapa saya agak risau jika masuk ke obrolan politik, tak lain karena alasan tersebut. Dan sejujurnya, isu-isu politik adalah bagian dari pekerjaan saya sehari-hari dalam sebuah media massa.
Dalam Kafka on the Shore, Haruki Murakami tak segan menyebut para intoleran sebagai orang-orang yang minim imajinasi.
Bagi saya Haruki penulis cerdas. Ia membuat pembacanya bertanya-tanya lebih jauh apa yang ia tulis. Sama halnya seperti peneliti, hasil riset mereka akan memberi dampak yang jauh lebih luas apabila bisa menciptakan pertanyaan-pertanyaan lain untuk diteliti. Bukan memberi jawaban bagi semua persoalan. Seperti itulah tulisan Haruki.
Haruki menyebut soal intoleransi lewat karakter
bernama 'Oshima'. Ia seorang penjaga perpustakaan yang gemar membaca, dan tidak
banyak berinteraksi. Menurut Oshima, ada beberapa orang yang ia anggap
'berbeda', yang justru dapat masuk ke kehidupannya. Di sisi lain, ia sangat
membenci orang yang berpikiran pendek dan minim imajinasi. Ia punya alasan
khusus mengapa membenci mereka. Tak lain karena ia kerap mendapat diskriminasi dari orang-orang
semacam itu. Ya, Oshima adalah seorang gay.
‘Berbeda’ dengan
‘minim imajinasi’ menjadi dua konsep yang saling berlawanan bagi Oshima untuk
menilai seseorang.
Makna kata
‘berbeda’ yang digunakan Haruki dengan yang terkonsep di kepala saya mungkin
saja berlainan. Namun sesungguhnya saya juga berpendapat, beberapa orang punya sesuatu yang berbeda yang justru dapat menarik perhatian.
Apa yang membuat mereka berbeda,
saya tidak terlalu yakin. Penampilan fisik? Jelas bukan. Intelegensia? Tidak
juga. Pola pikir? Ah, mungkin saja. Bagaimana cara orang lain berpikir kadang
menarik bagi saya. Misal, saya sering memperhatikan mengapa rekan kerja di
sebelah saya suka genre film tertentu; mengapa orang terdekat saya begitu menggilai
K-pop; atau mengapa orang tua saya sangat membenci capres, cagub, atau tokoh
politik tertentu apa pun alasannya.
Saya tertarik menerka-nerka atau mengajak
diskusi untuk memahami cara mereka berpikir. Jika tidak menemukan sesuatu yang
lebih menarik, maka saya akan berhenti, dan tidak tertarik lagi.
Ya, itu tadi soal
‘berbeda’. Lalu bagaimana dengan ‘minim imajinasi’?
“Orang yang paling menjijikan bagiku adalah mereka
yang tidak punya imajinasi," kata Oshima.
Menurut Oshima,
orang-orang seperti itu bahkan tidak sadar dengan apa yang mereka lakukan.
Mereka kerap melontarkan cacian ke orang lain, seenaknya, tanpa perasaan. Bahkan
memaksa orang lain melakukan hal yang tidak mereka suka. Oshima menegaskan, ia
sama sekali tidak peduli tentang apa isu yang diperjuangkan seseorang. Baik itu
LGBT, feminisme, fasisme, komunisme, atau hal lain. Namun satu hal yang paling
ia benci, meminjam istilah Thomas Stearns Eliot, adalah hollow people, yaitu orang-orang tanpa imajinasi.
Dalam kisah lain
pada novel itu disebutkan, Oshima menganggap orang-orang semacam itulah yang
membunuh kekasih Miss Saeki, atasannya, ketika masih muda. Di suatu malam, seorang
pria berusia 20-an tahun sedang jalan sendirian. Tiba-tiba ia ditangkap sekelompok
pemuda lainnya, dan dituduh sebagai mata-mata geng lain. Karena tidak mengaku
saat diinterogasi, ia dipukul ramai-ramai hingga tewas. Ternyata dia adalah
korban salah tangkap dalam sebuah kerusuhan antar-geng. Ia mati sia-sia. Kematian
tragis itu meninggalkan trauma yang sangat dalam pada diri Miss Saeki, bahkan
mempengaruhi hidupnya hingga tua.
Membaca novel
ini, saya mendapat sebuah kesimpulan. Haruki Murakami memandang mereka yang
kerap melakukan tindakan intoleransi, persekusi, atau tidak bisa menerima
pandangan orang lain adalah sekelompok orang yang tidak cukup punya imajinasi.
Mereka bahkan tidak sadar dengan apa yang mereka lakukan.
Orang-orang semacam itu, agaknya, hanya mengenyam
suatu informasi, kemudian berpikir secara sederhana. Celakanya, mereka tanpa sadar telah memaksa orang lain untuk sependapat dengan pikiran pendek mereka.