Monday, September 9, 2024

Vending Machine

Suatu ketika aku mengantar anak laki-lakiku ke dokter untuk injeksi vaksin DPT di Rumah Sakit langganan kami. Ada sebuah vending machine yang terletak persis di tengah deretan sofa ruang tunggu.

Mesin itu menjual beberapa jenis softdrink dan snack, lengkap dengan label harga, layar monitor petunjuk penggunaan, serta kode bar qris yang memudahkan para pembeli, tanpa pramusaji. Aku membayangkan dunia ketika semua hal sudah serba cepat dan terautomatisasi, di mana hardskill konvensional tak lagi laku dijual.

Setelah beberapa saat memilih, aku menekan tombol untuk membeli produk susu uht rasa coklat untuk diriku sendiri. Dalam hitungan detik, layar monitor langsung menampilkan kode bar qris yang dapat kugunakan untuk membayar lewat mobile banking.

“Bruk!”

Terdengar suara pelan dari bagian bawah vending machine tempat pengambilan produk. Susu kotak siap diminum.

“Bruk… Bruk!”

Tiba-tiba kembali terdengar 2 kali suara benda jatuh di lubang tempat pengambilan susu tadi. Penasaran, kujulurkan tanganku ke rak tersebut.

Benar saja, ada 2 kotak susu bermerk sama seperti yang sedang kuminum. Buru-buru aku cek saldo rekening dari smartphone, khawatir kelebihan membayar. Namun tidak ada nominal aneh yang kutemukan. Saldo terpotong persis seharga satu kotak susu.

“Hmm… Mesin ini error,” gumamku dalam hati.

Tebersit keinginan untuk mengambil 2 susu kotak yang masih tergeletak di rak bawah vending machine tersebut. Namun beberapa saat kemudian, kuurungkan niat itu.

“Tidak. Itu bukan hakku,” batinku.

Aku berjalan dengan perasaan riang sambil menyeruput satu kotak susu instan. Jutaan zat serotonin seolah baru saja memenuhi otakku setelah merasa menjadi “orang baik”.

Aneh. Padahal aku tidak memberikan apa-apa. Tidak ada sedekah yang aku keluarkan siang itu. Tidak juga aku membagikan susu kepada pelayan rumah sakit yang bekerja di hari Minggu. Namun aku tetap merasa menjadi “orang baik”. Kenapa ya?

Sambil berjalan, kubiarkan perasaan riang itu memenuhi pikiranku. Kunikmati label "Santo" yang kusematkan untuk diri sendiri, sambil berusaha melupakan buah plum milik teman yang tertinggal di kulkas rumah, yang kumakan habis begitu saja tanpa meminta izin pemiliknya terlebih dahulu.

Saturday, March 9, 2024

Dunia Tak Lagi Memandangmu

Ada kala semua terasa baik-baik saja. Senyummu tertarik lebar ketika seluruh orang di sekeliling begitu asyik mengajak bercanda, membicarakan topik ringan nan seru, juga mengerjakan hobi yang sama tanpa takut berpikir hal itu tidak akan menjadi apa-apa kelak.

Ingatanmu begitu detail tentang bagaimana ayah dan ibu marah ketika kamu lalai terhadap tugas-tugas sebagai seorang anak. Namun alih-alih merasa terhukum, kamu menganggap itu lah cara mereka menyatakan kasih sayang dan peduli.

Bagimu sekolah bukan merupakan penjara seperti yang sebagian anak lain rasakan. Ruang itu justru menjadi tempat menguji nilai-nilai yang kamu bawa sejak lahir, membandingkannya dengan perbedaan yang dimiliki beberapa anak lain, sehingga kamu bisa mendapat validasi sebuah norma.

Kamu juga merasa lebih unggul dibanding anak-anak lain dalam beberapa bidang. Itulah yang menjadi sumber energimu untuk terus membuktikan diri di mana pun.

Kamu begitu berarti…

Namun kamu tidak pernah menyangka hal kecil sungguh sangat sensitif bagimu kini. Terlalu banyak yang kau pikirkan hingga tak tersisa sedikit pun tempat di kepala untuk sesuatu yang sebenarnya wajar terjadi. 

Dunia yang begitu mendukungmu sejak kecil kini berbalik arah. Kamu selalu bertanya, kapan ini akan berakhir? Atau, kapan akhirnya kamu akan menyerah pada keadaan?

Di hadapanmu, semua berjalan sendiri-sendiri, yang kalah hanya akan jadi pecundang. Berapa pun yang kamu berikan kepada orang lain, tidak pernah menjadi jaminan akan dapat membantumu menghadapi situasi sulit.

Di dunia ini kamu dipaksa menyadari, bahwa idealisme kian semu. Segala hal hanya laku jika dibayar dengan materi. Lalu berapa lagi yang tersisa darimu yang bisa kau jual?

Sumber energimu hilang, tetapi jiwamu terus diserap untuk mengisi kekosongan yang lain. Kering-kerontang hingga tak ada tetes tersisa...

Ketika segala sesuatu menjadi begitu berat, kamu selalu teringat tentang memori masa lalu. Kamu terbiasa dengan berbagai jenis kompetisi, tetapi tidak pernah diajari cara menghadapi kegagalan yang terjadi terus-menerus, bahkan harus kau hadapi seorang diri.

Mungkin itulah alasan mengapa selera musikmu terhenti di karya-karya yang kamu nikmati belasan tahun lalu. Kamu rindu bocah riang dalam dirimu yang sudah lama pergi.

Namun, tentu saja kegagalan demi kegagalan tidak sampai membuatmu berpikir bahwa kamu tidak lebih cakap dari beberapa orang yang menggeluti bidangmu, atau berada pada posisi atau status yang sama denganmu. Namun hal itu justru makin menegaskan pertanyaan, mengapa seolah kamu selalu tidak pernah cukup untuk orang-orang di sekelilingmu?

Apakah tragedi demi tragedi membuatmu menjadi tidak peduli? Tidak juga. Kamu masih memiliki empati. Namun timbang rasa itu justru kau habiskan untuk mengasihani mereka yang gagal membuatmu ceria kembali.

Akhirnya, kamu pun sadar, bahwa dunia tak lagi memandangmu…

Friday, November 26, 2021

Alasan Hidup dan Mati

"Ah, agaknya terlalu berlebihan." Itu yang terlintas di kepala ketika saya menulis judul tulisan ini. Berlebihan. Memang. Tidak banyak orang yang ingin membicarakan alasan hidup atau mati. Kebanyakan kita terlihat biasa-biasa saja untuk menerima keadaan saat sedang bernyawa. Tidak protes, tidak ribut, apalagi mempertanyakan mengapa semua yang hidup pasti akan mati.

Suatu sore seorang teman mengirim tautan artikel yang kira-kira berjudul "Alasan Kenapa Kamu Harus Tetap Hidup". Tanpa ragu saya langsung klik tautan tersebut lalu membacanya sekilas. Isinya memang kumpulan alasan. (What do I expect?)

Memangnya kita butuh alasan untuk hidup? Jika tidak ada, apakah mati adalah pilihan paling tepat?

Saya ingat ketika kecil, pernah tebersit cita-cita menjadi pemain sepak bola. Kemudian saat remaja, menjadi musisi rasanya adalah hal yang paling saya dambakan. Sekarang saya jelas bukan seorang pesepak bola atau pun musisi, meski kedua profesi tersebut pernah menjadi harapan untuk hidup kala itu. 

Semakin lama hidup dan semakin banyak harapan yang pernah dijunjung, semakin saya sadar bahwa tak sedikit kenyataan yang berbeda jauh dengan ekspektasi.

Alasan menciptakan harapan. Harapan memunculkan ekspektasi. Seperti dua sisi mata uang, harapan membuat manusia ingin tetap hidup, namun harapan juga yang pelan-pelan membunuh manusia. Sementara kita cenderung mencari alasan ketika tidak yakin dengan pilihan. Entah memilih cita-cita hidup, mengakhiri hidup, atau menentukan seseorang untuk menemani hingga akhir.

Alasan dicari hanya untuk mengamini kebohongan.

Ketika mencintai seseorang, apakah kita butuh alasan? Apakah karena dia cantik/tampan, baik, seksi, atau mungkin dia berwawasan luas sehingga enak menjadi teman ngobrol? Padahal ada jutaan lusin manusia cantik/tampan, baik hati, menggairahkan dan berwawasan luas lainnya yang bisa kita cintai, jika memilih hal-hal tersebut sebagai alasan.

Kita tidak butuh alasan untuk menentukan apapun pilihan, karena hidup terjadi begitu saja. Jika besok mati, bersyukur lah. Sebab telah lepas dari seluruh tugas dan tanggung jawab di dunia. Namun jika waktu masih panjang, jalani saja. Sebab, miskin jauh lebih menakutkan daripada mati.

Monday, January 21, 2019

Perbedaan, Intoleransi, dan Haruki Murakami

"Orang-orang intoleran, yang berpikiran pendek dan minim imajinasi, mereka seperti parasit."


Demikian penggalan percakapan dalam "Kafka on the Shore"-nya Haruki Murakami. Saya terhenti sejenak ketika membaca bagian ini. Teringat apa yang sedang saya pikirkan dan alami.

Akhir-akhir ini saya sering termenung. Ternyata cukup banyak orang di sekeliling saya yang sangat berbeda pandangan. Saya memang bukan orang yang pandai bergaul. Namun cukup banyak lingkar pertemanan yang saya buat dari berbagai momen. Misal, sekolah, lingkungan rumah, kampus, hingga kantor.

Perkembangan teknologi, juga tuntutan sosial yang membuat manusia mau tidak mau harus terus berinteraksi, menciptakan sistem komunikasi yang lebih intens. Sebut saja grup WhatsApp. Tidak ada aturan baku bagaimana kita harus berkomunikasi. Ketika sedang bekerja, bertatap muka langsung dengan orang-orang di kantor, tiba-tiba handphone bergetar menandakan sebuah pesan WhatsApp masuk. Pengalaman komunikasi nyata di kantor dalam sekejap beralih via daring.

Salah seorang teman menyebar meme di grup. Seperti biasa, semua terhibur. Demikian seterusnya yang terjadi setiap hari. Tidak jarang pula saya yang mengawali percakapan.

Grup itu berisi kurang dari sepuluh orang. Ada laki-laki, ada perempuan, semuanya pernah mengenyam pendidikan di perguruan tinggi. Pada waktu senggang di kantor, saya sering terhibur ketika ikut masuk dalam percakapan. Kondisi itu memberi sedikit rekreasi bagi otak yang seharian sibuk memikirkan pekerjaan.

Namun, saya sedikit terganggu ketika pembicaraan sudah masuk arah politik. Beberapa anggota grup, secara terus terang mengungkapkan kebenciannya pada salah satu partai politik atau capres.

Iya, KEBENCIAN, bukan cuma kritikan.

Mereka bahkan tidak sadar dengan dampak ucapannya bagi teman-teman lain di grup. Mereka mungkin hanya mengenyam suatu isu, berpendapat, dan tanpa pikir panjang langsung melempar opininya ke grup seakan-akan orang lain akan memahami dan setuju dengan apa yang diucapkan. Sikap semacam ini kerap kali berujung pada intoleransi.

Bagaimana reaksi di grup setelah itu? Ada yang mendukung. Ada pula yang, karena sudah tau berbeda pandangan dengan teman lain, memilih diam atau menyampaikan komentar pragmatis. Saya? Seperti biasa menyebar 'shit posting' untuk mengalihkan pembicaraan.

Namun satu hal yang saya sadari. Sebagian besar dari mereka bukanlah orang yang layak saya ajak diskusi tentang isu-isu terkini, termasuk politik. Bukan berarti saya tidak menerima perbedaan pandangan. Banyak orang yang saya anggap beda pandangan tetapi masih saya ajak diskusi. Atau minimal, saya follow di Twitter. Sebab menurut saya, perbedaan sesungguhnya bisa meningkatkan kemampuan berpikir, jika direspons dengan benar. Namun untuk kasus tertentu, saya tidak bisa menerima orang-orang semacam itu.

Mengapa saya agak risau jika masuk ke obrolan politik, tak lain karena alasan tersebut. Dan sejujurnya, isu-isu politik adalah bagian dari pekerjaan saya sehari-hari dalam sebuah media massa.


Dalam Kafka on the Shore, Haruki Murakami tak segan menyebut para intoleran sebagai orang-orang yang minim imajinasi.


Bagi saya Haruki penulis cerdas. Ia membuat pembacanya bertanya-tanya lebih jauh apa yang ia tulis. Sama halnya seperti peneliti, hasil riset mereka akan memberi dampak yang jauh lebih luas apabila bisa menciptakan pertanyaan-pertanyaan lain untuk diteliti. Bukan memberi jawaban bagi semua persoalan. Seperti itulah tulisan Haruki.

Haruki menyebut soal intoleransi lewat karakter bernama 'Oshima'. Ia seorang penjaga perpustakaan yang gemar membaca, dan tidak banyak berinteraksi. Menurut Oshima, ada beberapa orang yang ia anggap 'berbeda', yang justru dapat masuk ke kehidupannya. Di sisi lain, ia sangat membenci orang yang berpikiran pendek dan minim imajinasi. Ia punya alasan khusus mengapa membenci mereka. Tak lain karena ia kerap mendapat diskriminasi dari orang-orang semacam itu. Ya, Oshima adalah seorang gay.

‘Berbeda’ dengan ‘minim imajinasi’ menjadi dua konsep yang saling berlawanan bagi Oshima untuk menilai seseorang.

Makna kata ‘berbeda’ yang digunakan Haruki dengan yang terkonsep di kepala saya mungkin saja berlainan. Namun sesungguhnya saya juga berpendapat, beberapa orang punya sesuatu yang berbeda yang justru dapat menarik perhatian.

Apa yang membuat mereka berbeda, saya tidak terlalu yakin. Penampilan fisik? Jelas bukan. Intelegensia? Tidak juga. Pola pikir? Ah, mungkin saja. Bagaimana cara orang lain berpikir kadang menarik bagi saya. Misal, saya sering memperhatikan mengapa rekan kerja di sebelah saya suka genre film tertentu; mengapa orang terdekat saya begitu menggilai K-pop; atau mengapa orang tua saya sangat membenci capres, cagub, atau tokoh politik tertentu apa pun alasannya.

Saya tertarik menerka-nerka atau mengajak diskusi untuk memahami cara mereka berpikir. Jika tidak menemukan sesuatu yang lebih menarik, maka saya akan berhenti, dan tidak tertarik lagi.

Ya, itu tadi soal ‘berbeda’. Lalu bagaimana dengan ‘minim imajinasi’?

“Orang yang paling menjijikan bagiku adalah mereka yang tidak punya imajinasi," kata Oshima.

Menurut Oshima, orang-orang seperti itu bahkan tidak sadar dengan apa yang mereka lakukan. Mereka kerap melontarkan cacian ke orang lain, seenaknya, tanpa perasaan. Bahkan memaksa orang lain melakukan hal yang tidak mereka suka. Oshima menegaskan, ia sama sekali tidak peduli tentang apa isu yang diperjuangkan seseorang. Baik itu LGBT, feminisme, fasisme, komunisme, atau hal lain. Namun satu hal yang paling ia benci, meminjam istilah Thomas Stearns Eliot, adalah hollow people, yaitu orang-orang tanpa imajinasi.

Dalam kisah lain pada novel itu disebutkan, Oshima menganggap orang-orang semacam itulah yang membunuh kekasih Miss Saeki, atasannya, ketika masih muda. Di suatu malam, seorang pria berusia 20-an tahun sedang jalan sendirian. Tiba-tiba ia ditangkap sekelompok pemuda lainnya, dan dituduh sebagai mata-mata geng lain. Karena tidak mengaku saat diinterogasi, ia dipukul ramai-ramai hingga tewas. Ternyata dia adalah korban salah tangkap dalam sebuah kerusuhan antar-geng. Ia mati sia-sia. Kematian tragis itu meninggalkan trauma yang sangat dalam pada diri Miss Saeki, bahkan mempengaruhi hidupnya hingga tua.

Membaca novel ini, saya mendapat sebuah kesimpulan. Haruki Murakami memandang mereka yang kerap melakukan tindakan intoleransi, persekusi, atau tidak bisa menerima pandangan orang lain adalah sekelompok orang yang tidak cukup punya imajinasi. Mereka bahkan tidak sadar dengan apa yang mereka lakukan.

Orang-orang semacam itu, agaknya, hanya mengenyam suatu informasi, kemudian berpikir secara sederhana. Celakanya, mereka tanpa sadar telah memaksa orang lain untuk sependapat dengan pikiran pendek mereka. 

Monday, June 19, 2017

Anak Adam

Kepada seikat debu yang Kau tiup
di dalam nafas awal kehidupan
Mengawali eksistensi, membuka sebuah cerita

Ia fana seperti waktu
rapuh seperti nyawa
membusuk seperti jasad

Namun seperti melodi,
Ia tak pernah berkesudahan



Jakarta 2017

Thursday, April 9, 2015

Penat

Ekspresi dari beragam peristiwa, adalah ihwal yang tak bisa disangkal.

Setiap orang bisa dendam, bisa marah, bisa cinta, bisa nafsu, namun cenderung memilih melanjutkan ego dari pendiriannya sendiri.

Maka marah lah ia ketika ada yang mencoba melakukan usaha diplomasi yang gagal,

maka kecewa ia ketika keinginannya lagi-lagi terpaksa bersembunyi dalam topeng yang senantiasa bersemayam dalam tubuhnya.

Ini bukan soal "We can't be everything to everyone, but we can be everything what we want", karena itu terlalu idealis,

namun lebih kepada "I want to be something what I want, not more."

Nggih, nggih, nggih... asu!


Tuesday, April 30, 2013

Garis Hidup

Kita pernah akui bahwa kita sangat nyaman dengan kelemahan kita sendiri hingga tak sadar bahwa kita tidak sedang berdiri dengan dua kaki melainkan saling bersandar dalam pelukan yang kita anggap abadi

Namun saat ini kita terpaksa berdiri gontai dengan dua kaki yang lapuk dimakan kerinduan sambil menunggu datangnya harapan atau malah akhir dari waktu kita berdiri

Kemudian kita hanya akan bertanya pada Tuhan untuk apa kita dikirim ke sini jika kita tidak saling berterus-terang dengan perasaan yang kita buat sendiri